free hit counters
 

Misteri Batalyon Asal Texas AS Yang Hilang di Bogor

Redaksi – Rabu, 27 Jumadil Akhir 1440 H / 6 Maret 2019 03:00 WIB

Kelly E. Crager dalam Hell Under the Rising Sun: Texan POWs and the Building of the Burma-Thailand Death Railway mencatat, Blackburn menempatkan kekuatan intinya di sisi timur tepi Sungai Cianten. “Pasukan Amerika menembak (meriam) dengan sangat akurat ke arah seberang sungai di mana pasukan Jepang berada. Tapi kemudian pada 4 Maret (5 Maret WIB), Jenderal Ter Poorten (Panglima ABDA) memerintahkan mundur ke Bandung via Sukabumi,” tulis Crager.

Namun, sisa pasukan Texas ditawan pasca-Belanda menyerah di Kalijati, 8 Maret 1942. Sejak kapitulasi itulah keberadaan pasukan Texas tak diketahui lagi oleh para petinggi militer Amerika. Dari sinilah julukan “The Lost Battalion” bermula.

Menurut Ronald Marcello dalam Lone Star POWs: Texas National Guardsmen and the Building of the Burma-Thailand Railroad, keberadaan mereka baru diketahui dari informasi tawanan perang lain pada 16 September 1944. Kala itu, sekira 2000 tawanan perang asal Australia dan Inggris hendak dibawa dari Burma ke Jepang. Tapi di tengah jalan, dua kapal Jepang yang membawa mereka ditenggelamkan dan para tawanan itu diselamatkan sebuah gugus tugas kapal selam Amerika.

Dari merekalah Amerika baru mendengar kabar tentang keberadaan pasukan Texas itu, di mana sekira 500 personelnya dijadikan romusha. Ternyata, sejak kapitulasi di Kalijati, mereka dan ratusan penyintas awak USS Houston dibawa dari Batavia (kini Jakarta) ke Burma untuk dipekerjakan dalam pembangunan jalur kereta Burma-Siam (kini Thailand), yang difilmkan Pierre Boulle dengan judul The Bridge on the River Kwai.

Keadaan mereka mengenaskan akibat beragam perlakuan kejam Jepang. Dari 500 personel yang dipekerjakan, 86 di antaranya tewas dalam masa tawanan, baik karena disiksa maupun karena kelaparan atau kehausan. Sisanya, dibebaskan di Tamarkan, Burma pada Agustus 1945.

Kekejaman terhadap mereka berasal dari dendam Jepang, yang rugi besar dalam pertempuran di tepi Sungai Cianten, Leuwiliang. “Dari tiga hari pertempuran, korban Jepang besar sekali. Sampai di kemudian hari di dekat lokasi pertempuran, dibuat monumen untuk mendedikasikan pasukan Jepang yang gugur. Kini monumennya sudah dipindah ke Museum Taman Prasasti,” sambung Iwan Ong.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus