free hit counters
 

NU dekat PKI, NU Hadapi PKI: Kisah Konflik Santri-Komunis

Redaksi – Selasa, 1 Zulqa'dah 1441 H / 23 Juni 2020 12:00 WIB

Eramuslim.com – Inilah uniknya politik. Meski satu kepala dalam selimut yang sama, –sebagai bagian tiga kekuatan dalam Nasakom (nasionalisme, agama, dan komunis) di era Bung Karno– NU dan PKI ternyata punya tujuan lain. Istilahnya ‘rambut memang sama hitam’ namun kepala dan isinya setiap kepala orang berbeda-beda.

Kisahnya ini terekam kuat dalam kisah tokoh Islam seperti Isa Anshari dan KH Syaefudin Zuhri, Ceritanya dimulai usai menghadiri rapat beberapa hari setelah Peristiwa PRRI meledak. Kala itu  KH M Isa Anshari yang tokoh Masyumi akan pulang dengan menumpang  mobil tokoh NU, Kiai Saifuddin Zuhri.

“Saudara  akan lewat jalan  mana?” bertanya  KH M Isa  Anshary.

“Ke Kramat Raya, ” jawab Kyai Saifuddin.

”Aku  biasa  tiap hari  pergi  pulang  antara  kantor  PBNU  di  Jalan Kramat  Raya  dan  Gedung DPR  di Jalan Wahidin  di  depan Lapangan Banteng”.



“Saya ikut,”   seru  KH M Isa Anshary.  “Nanti  saya diturunkan  di kantor PBNU. Biarlah  saya  naik  becak  menuju   Jatinegara,” tambahnya.

“Biar  aku  antar, kemana  tujuan  saudara?”  balas Kiai  saifuddin.

“Kalau begitu ke Kantor  Persis  di Jalan  Raya  Jatinegara saja,” jawab KH  M Isa Anshary.

Dalam perjalanan pulang di dalam mobil itu, keduanya agak  lama  saling membisu. Peristiwa  meledaknya pemberontakan PRRI  membuat antara KH Isa Anshari dan KH Saifuddin Zuhri  seperti   ada jarak.  Ada semacam  rasa kikuk. Meskipun  tokoh-tokoh  puncaknya  memang tidak  secara langsung terlibat dalam peristiwa itu, tetapi  tidak semua  tokoh  Masyumi setuju PRRI.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru