free hit counters
 

Bedanya Pak Haji Dulu dengan Haji Sekarang

Redaksi – Sabtu, 17 Muharram 1439 H / 7 Oktober 2017 15:00 WIB

Eramuslim – Sejak berabad-abad lampau, Kota Makkah memainkan posisi strategis sebagai mercusuar aktifitas intelektual Muslim. Di musim haji, kota ini menjadi tempat berkumpul dan berbagi pikiran para ulama yang datang dari berbagai belahan dunia. Hijaz, Kufah, Bashrah, Yaman, Samarqand, Khurasan, Mesir, India, serta negeri-negeri lainnya.

Tak heran jika kemudian banyak jamaah haji yang memanfaatkan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk belajar di tanah suci. Talaqi kepada para ulama di sana. Dari tradisi intelektual inilah, khususnya di era kolonial, ide-ide pembaruan Islam di kalangan para penuntut ilmu Melayu Nusantara mulai tumbuh, bersemi dan disebarluaskan.

Tercatat sejak abad ke 18, gerakan pembaruan Islam mulai digelorakan oleh orang-orang Melayu Nusantara yang baru kembali selepas berhaji dan menuntut ilmu di Makkah. Tak semuanya kembali ke Nusantara. Sebagian dari mereka memilih menetap dan mengajar di tanah suci, menjadi oase ilmu di tengah umat. Sebut saja; Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Termasi, dan Syekh Junaid Al-Batawi.

Di masa kini peran tersebut diteruskan oleh syekh Yasin Al-Fadani, Syekh Anis Thahir Al-Indunisi, serta Syekh Amir Bahjat (cicit dari Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi) yang masih memiliki garis keturunan Indonesia.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

loading...

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus