free hit counters
 

Pembangkangan Sipil Warga Kampung di Surabaya

Redaksi – Rabu, 3 Rabiul Awwal 1442 H / 21 Oktober 2020 17:15 WIB

Eramuslim.com – Warga kampung di Surabaya melakukan pembangkangan sipil dengan menolak bayar sewa, setor hasil panen, dan kerja wajib kepada tuan tanah. Dianggap tuan tanah kemakan hasutan.

*

Pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) atau Omnibus Law pada 5 Oktober 2020 memancing protes keras di berbagai penjuru Indonesia. Bentuknya demonstrasi maraton di antero Indonesia. Tak jarang itu berujung pada kerusuhan, kekerasan, dan represi aparat. Bentuk protes lainnya ialah seruan pembangkangan sipil.

Tapi seruan pembangkangan sipil belum menemukan wujudnya secara jelas. Di negara lain, pembangkangan sipil dapat berupa menolak bayar pajak, listrik, dan iuran lainnya. Intinya, mengorganisasi masyarakat untuk mengabaikan hukum sebagai bentuk koreksi kebijakan yang menyangkut hajat mereka. Lazimnya tanpa kekerasan.



Orang-orang di perkampungan kota Surabaya pernah melakukan hal serupa pada 1915–1916. Tapi itu ditujukan bukan kepada pemerintah, melainkan kepada tuan tanah partikelir. Orang-orang kampung itu tinggal di tanah partikelir. Timbal baliknya, mereka membayar sewa tanah, bekerja wajib, dan menyerahkan sebagian panennya kepada tuan tanah.

Tapi sejak adanya gerakan-gerakan dari Mas Prawirodihardjo dan Pak Siti alias Sadikin, tak ada lagi timbal balik untuk tuan tanah. Para tuan tanah naik pitam dan menganggap dua orang itu sebagai penghasut warga kampung. Mereka melaporkannya kepada pemerintah kolonial.

“Menurut kedua orang yang dianggap menjadi penghasut itu, penduduk di tanah partikelir tidak perlu memenuhi kewajiban-kewajiban itu, karena tanah yang mereka tempati dan mereka garap itu sebenarnya tanah mereka sendiri,” catat Sartono Kartodirdjo dalam Laporan-laporan tentang Gerakan Protes di Jawa pada Abad XX.

Mas Prawirodihardjo, warga Kampung Ondomohen, Surabaya. Dia bekerja sebagai pengawas pembangunan. Kemungkinan dia pegawai pemerintah kolonial langsung atau menjadi bawahan di biro pembangunan partikelir. Sedangkan Pak Siti alias Sadikin bekerja menjadi mandor kereta api. Dia warga Kampung Kedondong, Keputran Lor. Demikian ungkap sejarawan Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, dalam Dua Kota Tiga Zaman: Surabaya dan Malang Sejak Era Kolonial Sampai Kemerdekaan.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru