free hit counters
 

Pertempuran Usai Lebaran

Redaksi – Kamis, 20 Syawwal 1439 H / 5 Juli 2018 07:00 WIB

Eramuslim.com – Awal Agustus 1948. Menjelang datangnya waktu lebaran, para prajurit Divisi Siliwangi dari Batalyon Rukman mulai resah. Alih-alih mendapat gaji, mereka tak melihat tanda-tanda pemerintah akan memberikan tunjangan hari raya. Sementara itu istri dan anak di asrama penampungan mulai merengek-rengek.

“Itu menjadikan kami tak fokus lagi menjalankan tugas sebagai tentara,” ungkap Soempena (92), mantan kopral di Batalyon Rukman

Sesampainya di wilayah Jawa Tengah, kondisi ekonomi para prajurit Siliwangi  dan keluarga yang turut berangkat, hampir  bisa dikatakan sehari-harinya berlangsung morat-marit. Jangankan hidup layak, untuk sekadar tidur pun mereka harus berdesak-desakan di asrama-asrama sempit dan kotor.

“Pokoknya sengsaralah saat itu kami di kampung orang,” kenang Soehanda.

Merasa tak memiliki apa-apa untuk berlebaran, lantas muncul ide gila dari sebagian prajurit untuk mengambilalih (waktu itu dikenal dengan istilah mendaulat) logistik yang tersimpan di Rumah Penjara Negeri Surakarta.

Atas kesepakatan sepihak dari sebagian prajurit Bataliyon Rukman itu, maka bergeraklah sekelompok pasukan ke rumah penjara tersebut.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

loading...

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus