free hit counters
 

Divisi Siliwangi dan Pertempuran Usai Lebaran

Redaksi – Kamis, 1 Syawwal 1440 H / 6 Juni 2019 05:00 WIB

“Mereka lantas melakukan aksi penggedoran (meminta secara paksa) dan perampasan barang-barang persedian tersebut untuk kemudian dibagikan kepada seluruh anggota bataliyon dan keluarganya,” ujar Soe Hok Gie dalam Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Diancam Pasukan Lokal

Aksi liar Yon Rukman itu mendapat sambutan negatif dari rakyat setempat. Mereka melaporkan soal itu kepada kesatuan TNI setempat: Yon S (Batalyon Singowareng) dari Divisi IV Surakarta dan pasukan TP (Tentara Pelajat). Sebagai respon, kedua pasukan tersebut mengutus beberapa prajuritnya ke asrama Yon Rukman untuk menegur perbuatan itu. Entah caranya yang terlalu keras atau karena anak-anak Yon Rukman sudah “gelap”, teguran itu malah disambut dengan sikap keras pula hingga berujung pengepungan asrama Yon Rukman oleh Yon S dan pasukan TP.

Beberapa hari setelah lebaran, negoisiasi pun kembali dilakukan. Mayor Rukman yang langsung turun tangan, mengaku salah dan berjanji kepada Yon S dan TP untuk menyerahkan anak-anak buahnya yang terlibat penggedoran kepada Polisi Tentara (PT). Kesepakatan untuk melokalisir masalah tersebut secara internal hampir tercapai, hingga tiba-tiba salah seorang pimpinan utusan dari kedua pasukan itu menuntut agar semua persenjataan Yon Ruman diserahkan kepada Yon S dan pasukan TP. Lantas apa jawaban Mayor Ruman atas tuntutan tersebut?

“Besok pagi jam 07.00, kami akan menyerahkan senjata-senjata kami. Tapi sebelum itu terjadi, kami akan membela diri terlebih dahulu!” ujar Mayor Rukman seperti ditulis dalam buku Siliwangi dari Masa ke Masa (Diterbitkan oleh Pusjarah Kodam III Siliwangi pada 1968).

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru