free hit counters
 

Rekayasawan di Era Kekhalifahan

zahid – Senin, 9 Zulhijjah 1440 H / 12 Agustus 2019 17:30 WIB

”Ada pula rekayasawan yang berasal dari ilmuwan yang mahir dalam  berbagai bidang pertukangan, yang kadang kala mereka praktikkan,” ungkap al-Hassan. Para rekayasawan Muslim tak hanya dihormati dalam masyarakat, tetapi juga menempati kedudukan tinggi dalam pemerintahan.

Rekayasawan yang mendapat posisi penting di pemerintahan antara lain Banu Musa bersaudara. Mereka sangat dihormati dan disukai Khalifah al-Ma’mun. Tak hanya itu, mereka juga memegang peranan penting dalam kehidupan budaya dan politik di Baghdad, pada zaman itu.



Kadang kala, para rekayasawan dibuatkan kantor-kantor penting. Mereka juga diberi gaji serta penghargaan yang tinggi.  Al-Hassan mengungkapkan, di istana Sultan Kerajaan Mamluk, terdapat kantor Muhandis Al Amair atau ‘Arsitek Bangunan’. Dia bertanggung jawab atas semua bangunan dan penilaian bangunan, perencanaan kota.

Para rekayasawan di  Kerajaan Mamluk  diberi gelar oleh pejabat tinggi adtara lain dengan sebutan ”Yang Mulia, Yang Terhormat, Yang Terpercaya”. Pada saat-saat tertentu gelar itu bisa bertambah tinggi lagi.

Untuk mengerjakan sebuah proyek atau pekerjaan yang sangat penting dibentuk komite rekayasawan. Komite ini bertugas untuk merancang dan mengawasi keseluruhan proyek. Hal itu terjadi saat Khalifah al-Mansur memutuskan untuk membangun kota Baghdad. Sebelum pembangunan dilakukan, Khalifah mengirimkan para rekayasawannya untuk melakukan studi banding ke berbagai negara Islam.

”Para rekayasawan juga bertindak pula sebagai kontraktor,” ungkap al-Hassan. Contohnya, pemerintah meminta mereka untuk menggali sebuah kanal dalam waktu tertentu, dengan biaya yang ditentukan sebelumnya. ”Mereka akan mengalokasikan bagian-bagian pekerjaan itu pada subkontraktor.” Sistem kerja ini telah dikenal masyarakat Islam di kota Baghdad sejak abad ke-9 M. (rol)

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2

Historia Terbaru