free hit counters
 

Si Bung dan Buku

Redaksi – Selasa, 27 Ramadhan 1439 H / 12 Juni 2018 11:00 WIB

“Dari keterangan Mahar Mardjono, disimpulkan bahwa Presiden Sukarno sangat berminat membaca dan mengoleksi sejumlah buku,” tulis sejarawan Peter Kasenda dalam Bung Karno Panglima Revolusi.

Kutu Buku 

Ketertarikan Sukarno membaca buku berawal dari perkenalannya dengan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pemimpin organisasi Sarekat Islam. Takala menempuh pendidikan HBS (setara SMA) di Surabaya, Sukarno mondok di kediaman Tjokroaminoto. Di bawah gemblengan Tjokro, pengembangan intelektual Sukarno terpupuk.

“Aku duduk dekat kakinya (Tjokroaminoto) dan diberikannya kepadaku buku-bukunya, diberikannya kepadaku miliknya yang berharga,” tutur Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Selain pengaruh figur Tjokro, kemiskinan jadi pintu masuk bagi Sukarno menggumuli dunia literasi. Perpustakaan theosofi di Surabaya adalah tempat yang kerap disambangi Sukarno untuk menghabiskan waktu melahap buku politik. Kemudahan memperoleh bacaan di perpustakaan tersebut karena ayahnya, Raden Sukemi adalah seorang anggota perkumpulan theosofi. Di sana, dia mendapat kepuasan pengganti kondisi kekecewaan dalam pergaulan melalui bacaan.

“Buku-buku menjadi temanku. Dengan dikelilingi oleh kesadaranku sendiri aku memperoleh kompensasi untuk mengimbangi diskriminasi dan keputus-asaan yang terdapat di luar. Dalam dunia kerohanian dan dunia yang lebih kekal inilah aku mencari kesenanganku. Dan di dalam itulah aku dapat hidup dan sedikit bergembira, ” ujar Sukarno.

Menurut Peter Kasenda, kesenangan Sukarno membaca mengantarkannya berbincang secara mental dengan pemikiran bermacam ideologi. Mulai dari paham kebebasan ala Barat Thomas Jefferson hingga kesadaran kelas yang didengungkan Karl Marx. Sementara dalam kehidupan nyata, Sukarno menyaksikan negerinya yang miskin dan terhina karena terjajah. Bacaannya secara tak langsung membawa Sukarno ke gelanggang pergerakan.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus