free hit counters
 

Si Bung dan Buku

Redaksi – Selasa, 27 Ramadhan 1439 H / 12 Juni 2018 11:00 WIB

“Sukarno mulai memperbincangkan antara perdaban yang megah dari pikirannya dan tanah airnya sendiri yang sudah bobrok. Pemikiran ini akhirnya menyadarkan Sukarno menjadi seorang nasionalis yang menyala-nyala,” ujar Peter Kasenda.

Dari membaca Sukarno menuangkan gagasan menjadi beberapa artikel untuk majalah Oetusan Hindia. Dalam berkala milik Sarekat Islam itu, Sukarno mengambil nama tokoh pewayangan Bima yang artinya “Prajurit Besar” sebagai nama pena. Menurut pengakuannya, Sukarno telah menulis lebih dari 500 karangan.

Penulis Buku

Data selanjutnya tentang kegemaran membaca buku Sukarno dapat dilihat berbagai buku karangannya. Sepanjang hidupnya, Sukarno tergolong penulis produktif yang membukukan buah pikirannya. Beberapa diantara seperti Mencapai Indonesia Merdeka (1933), Lahirnya Pancasila (1945), Sarinah (1951), dan yang terpenting kumpulan tulisannya dalam Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1 (1959) dan Jilid 2 (1960). Dalam buku-buku tersebut, Sukarno selalu memberikan rujukan, baik nama pengarang maupun judul bukunya,

Suyatno kepala Perpustakaan Proklamator Bung Karno mencatat, dalam Sarinah ditemukan 153 orang laki-laki dan 71 orang perempuan yang pendapatnya digunakan sebagai rujukan. “Berarti jumlah pengarang/penulis yang dikutip Sukarno dalam buku Sarinah sebanyak 224 orang baik laki-laki maupun perempuan,” ujar Suyatno dalam Buletin Perpustakaan Bung Karno vol.2/2014.



Berapa jumlah koleksi buku Bung Karno? Ketika diasingkan pemerintah Belanda ke Bengkulu jelang kedatangan Jepang, Sukarno memiliki 12 peti buku koleksi. Dalam buku Kisah Istimewa Bung Karno, rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu menyimpan sebanyak 400 buku. Seluruhnya berbahasa Belanda meliputi genre politik, seni, agama, sastra, dan kesehatan.

Pada 1968, Sukarno dipaksa rezim Orba meninggalkan Istana. Kolonel Maulwi Saelan – salah seorang ajudan Sukarno – melakukan inventarisasi terhadap koleksi buku di Istana. Dalam buku Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa, Maulwi mencatat koleksi buku Sukarno yang berjumlah hampir seribu buah.(kl/historia)

Penulis: Martin Sitompul

link source

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus