free hit counters
 

Soe Hok Gie dan Harta Karun Watanabe

Redaksi – Selasa, 12 Zulqa'dah 1440 H / 16 Juli 2019 09:30 WIB

Eramuslim.com – AGUSTUS 2000. Telepon di meja Rudy Badil berbunyi nyaring. Pada dering kedua, jurnalis senior Kompas itu lantas mengangkatnya. Terdengarlah suara lelaki berdialek Jawa di seberang sana, memperkenalkan diri sebagai wakil dari sebuah perusahaan ternama di Surabaya. Kepada Badil dia menawari sebuah pekerjaan besar: proyek pencarian harta karun peninggalan tentara Jepang senilai 82,62 trilyun rupiah!

“Mereka bilang memerlukan saya sebagau konsultan. Kerjanya cuma masuk hutan sesuai arahan peta, lalu menafsirkan isi kalimat proposal dan meriset data kepustakaan guna mendukung mega proyek itu,” kenang Rudy kepada Historia.

Yang paling mengagetkan Badil, proyek itu ternyata tersangku paut dengan sahabatnya, Soe Hok Gie. Menurut cerita sang empu pekerjaan, Soe waktu studi ke Kanada dan Jepang pernah mempelajari suatu naskah harta karun yang disembunyikan di Gunung Semeru oleh seorang perwira Jepang bernama Watanabe pada 1944. Dokumen Watanabe  inilah yang dibawa oleh Soe ke Puncak Mahameru pada Desember 1969.

Takdir menentukan Soe harus tewas di Mahameru, puncak tertinggi Gunung Semeru. Saat proses evakuasi, dokumen itu ditemukan oleh pemimpin SAR. “Lalu entah gimanaceritanya, dokumen terjemahan itu ada di tangan seseorang, yaa sebut saja namanya A-deh. Orangnya gua kenal kok,” ungkap Rudy Badil.

Sejak itulah, mulai 4 Oktober 1976, selalu ada tim khusus yang diberangkatkan ke Puncak Mahameru secara diam-diam. Namun karena masalah beaya, “rahasia” harta karun Watanabe itu kemudian dibagikan kepada perusahaan tersebut dan disetujui untuk ditindaklanjuti. Maka terbentuklah Tim Pencari Lokasi Simpanan Harta Karun Watanabe 1944.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

Historia Terbaru