free hit counters
 

Syekh Ali Jaber dan Jejak Anti-Arab di Indonesia

zahid – Senin, 25 Muharram 1442 H / 14 September 2020 15:00 WIB

Eramuslim – Apakah penusukan Syekh Ali Jaber terkait dengan sentimen anti-Arab?

Bagi umat Muslim Indonesia, serangan ini memang banyak yang menyatakan terkejut. Mereka menyatakan tak masuk akal karena dilakukan di tengah orang banyak dan pada sebuah forum acara pengajian resma. Entah mengapa, tiba-tiba ada yang berani menyerang ulama dengan benda tajam.

Namun, sebagian umat yang lain menyatakan tak perlu terlalu heran karena presedennya pada beberapa waktu juga sudah terjadi dan memakan korban. Namun, kali ini terasa lain karena serangan dilakukan di tengah pengajian, biasanya ulama diderang di luar itu, misalnya ketika berjalan hendak menuju masjid pada waktu Subuh hari.



Nah, ketika soal peristiwa ini diminta komentarnya pada politisi Islam senior yang mantan staf M Natsir dan staf Ahli Wapres Hamzah Haz, Lukman Hakiem, mengatakan tak terlalu heran. Apalagi, sentimen anti-Arab sudah ada di Indonesia sejak dahulu. “Ingat sentimen anti-Arab sudah ada dari dahulu,” katanya yang juga mantan anggota DPR RI.

Dan itu benar. Bagi mereka yang paham sejarah, sentimen anti-Arab yang dari dahulu kala sudah muncul. Ini, misalnya, terlacak pada jejak serat Gatotkoco pada menjelang awal tahun 1900-an, atau dalam bentuk modern melalui cerpen ‘Langit Makin Mendung’ karya Ki Panji Kusmin di akhir tahun 1960-an.

Uniknya, sentimen anti Arab di Indonesia dan dunia internasional, saat ini makin marak usai persitiwa 9/11 ketika menara kembar New York dirobohkan oleh serangan teroris. Saat itu telunjuk diarahkan kapad Islam dan Arab. Bahkan, kemudian Presiden AS memerintahkan pasukannya menyerbu Afghanistan untuk memberantas apa yang mereka labeli sebagai ‘Islam Teroris’. Bahkan, Goerge Bush menyerukan perlawanan itu dengan diksi kalimat ‘Perang Salib’.

Maka, sentimen anti-Arab semakin menjadi-jadi. Dunia tiba-tiba ketakutan dengan teriakan takbir dan isitilah jihad yang berasal dari bahasa Arab. Islam dan Arab menjadi semakin tertuduh. Bahkan, soal sikap sentimen Arab, khususnya di Indonesia sempat juga disindir seorang Grand Syekh Universitas Al Azhar ketika berkunjung ke Jakarta menyebut ’sebagai suatu sikap yang sudah berlebihan’. Katanya: “Ingat Nabi Muhammad itu orang Arab, jadi jangan berlebihan. Mencintai Nabi Muhammad juga berarti mencintai orang Arab bukan?”

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru