free hit counters
 

Tak Ada Nama Panglima

Redaksi – Jumat, 2 Maret 2018 08:30 WIB

Eramuslim.com – BERITA itu diterima dengan suka cita oleh Mr. A.A. Maramis di New Delhi. Sebagai Menteri Luar Negeri PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia), dia seolah “merasa tertolong” dengan kabar telah dikuasainya ibukota Yogyakarta oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia), kendati hanya berlangsung enam jam.

“Kabar itu seolah menampar balik pemerintah Belanda di muka dunia…” ujar Batara R. Hutagalung, penulis buku Serangan Umum 1 Maret 1949: Perjuangan TNI, Diplomasi dan Rakyat.

Sebelumnya Belanda memang kerap berupaya menafikan eksistensi RI (Republik Indonesia) di mata internasional. Sejak berhasil menguasai ibukota Yogyakarta pada 19 Desember 1948, Belanda tak hentinya menggembar-gemborkan bahwa seluruh unsur RI (termasuk TNI) telah hancur.

“Itu dijadikan bukti oleh Belanda bahwa Republik tak lebih sebagai pemerintahan buatan Jepang yang tak didukung rakyat sehingga hancur dengan sendirinya…” kata sejarawan Rushdy Hoesein.

Soeharto Bertindak

Letnan Kolonel Soeharto tak pernah bisa melupakan peristiwa itu. Suatu hari di awal 1949, dirinya tengah memantau siaran berita dari luar negeri bersama Purhadi, seorang perwira dari Bagian Perhubungan. Tetiba didengarnya berita mengenai perdebatan antara delegasi Indonesia dengan delegasi Belanda di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Isinya: Belanda mengklaim telah berhasil menghancurkan Yogyakarta termasuk TNI di dalamnya.

Komandan Brigade X Wehrkreise III itu tentu saja berang. Dia lantas mencari akal bagaimana caranya supaya TNI bisa membantu para wakil RI di PBB. Terbersitlah ilham dalam pikirannya.

“Kita harus melakukan serangan pada siang hari, supaya bisa menunjukan pada dunia kebohongan Si Belanda itu…” ujar Soeharto seperti diungkapkan dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya.

Maka disusunlah rencana secara matang. Sebagai komandan Wehrkreise (daerah pertahanan), Soeharto menganggap dirinya memiliki kewenangan untuk mengambil insiatif yang sesuai dengan keadaan dan kemampuan pasukan masing-masing. Jadi rencana Serangan Umum 1 Maret 1949 otomatis menjadi insiatifnya. Apakah Soeharto melibatkan atasannya: Kolonel Bambang Sugeng? Soeharto menyatakan tak ada nama Panglima Divisi III itu dalam perencanaan serangan umum atas Yogyakarta.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

loading...

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus