free hit counters
 

Tujuan Konsep Jabotabek Meleset?

Redaksi – Jumat, 20 Juli 2018 10:00 WIB

Eramuslim.com – Pagi yang semarak di Stasiun Kota, Jakarta. Hiasan pita warna-warni dan karangan bunga ucapan selamat terpampang di suatu sudut stasiun.

Pagi itu, 29 Agustus 1977, Tjokropranolo, Pejabat (Pj.) Gubernur Jakarta pengganti Ali Sadikin, meresmikan penggunaan kereta api rel listrik dan diesel untuk tiga rute ke wilayah sekitar Jakarta (Botabek atau Bogor, Tangerang, dan Bekasi).

Kompas, 27 Agustus 1977, melaporkan rute kereta rel listrik dan diesel tersebut mencakup rute Tanjung Priok-Karawang Pergi Pulang (PP), Jakarta-Rangkasbitung PP, dan Jakarta Bogor PP.

Pejabat pemerintah berharap kereta Jabotabek mampu melayani 100.000 penumpang per hari dengan jarak kedatangan 15 menit sekali di tiap stasiun. Mereka juga memandang kereta Jabotabek sebagai salah satu perangsang pusat pertumbuhan baru di Botabek untuk mengurangi beban Jakarta.

Pembangunan Sarana Penunjang

Penduduk Jakarta telah berjumlah hampir 6 juta jiwa pada 1977. Wilayahnya seluas 587,62 km2. Ini berarti kepadatan penduduknya mencapai 8.334 penduduk per km2. Angka ini tergolong tinggi untuk kepadatan penduduk dalam sebuah kota.

Dari sisi ekonomi, Jakarta memegang lebih dari 50 persen sirkulasi uang nasional. Ada 329 proyek Penanaman Modal Asing (PMA) dan 687 proyek Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Jakarta pada 1977. Nilai investasinya lebih dari 50 persen dari seluruh proyek PMA dan PMDN nasional. Padahal penduduk Jakarta hanya 4,2 persen dari total penduduk Indonesia.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

loading...

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus