free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (1)

Redaksi – Kamis, 24 Ramadhan 1440 H / 30 Mei 2019 10:30 WIB

Eramuslim.com – Artikel bersambung ini disalin dari bagian buku ‘Gerilya Salib di Serambi Mekkah’ (Rizki Ridyasmara, 2006) dan telah dimuat di eramuslim pada awal Februari 2016 dan sekarang kembali menemukan relevansinya dengan isu Aceh terkait wacana referendum yang dikemukakan Muzakir Manaf atau Mualim, tokoh sentral NAD. Hal ini menimbulkan pro dan kontra, Sebelum kita menilai hal itu akan jauh lebih baik kita mengetahui dan memahami terlebih dahulu sejarah NAD yang benar, agar bangsa ini tidak melupakan sejarahnya sendiri, agar bisa lebih arif bijaksana, agar tidak lagi tertipu dengan pencitraan, dan agar bisa menyadari jika negeri besar ini sekarang diambang kehancuran disebabkan keserakahan, sifat korup, dan–meminjam istilah Julien Benda–Pengkhianatan Kaum Intelektualnya. Silakan simak:

***

Aceh adalah negeri Islam. Adat istiadat masyarakatnya tidak bisa lepas dari syariat Allah SWT. Kitab suci Al Qur’an merupakan hukum tertinggi di seluruh wilayah Nangroe Aceh Darussalam yang diterjemahkan dalam Qanun Meukuta Alam, Konstitusi Kerajaan Aceh Darussalam. Belasan abad sebelum perampok Eropa seperti Vasco da Gama, Christopher Colombus, dan Ferdinand Magellhaens lahir, cahaya Islam telah menyinari tiap jumput tanah Aceh dengan kemilaunya.

Dari wilayah di ujung utara pulau Sumatera inilah Islam merambah ke seluruh Nusantara hingga rangkaian pulau dan kepulauan di zamrud khatulistiwa ini sekarang dikenal sebagai negeri Muslim terbesar di dunia. Sebab itu, Aceh Darussalam juga disebut sebagai Serambi Mekkah (Seuramoë Makah).

Peter Bellwood[1], Reader in Archaeology di Australia National University, yang telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara, menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini. Dalam catatan kakinya[2] Bellwood menulis,

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru