free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (11)

Redaksi – Sabtu, 26 Ramadhan 1440 H / 1 Juni 2019 11:30 WIB

indie-13-egelstellingEramuslim.com – Pada tanggal 18 Februari 1873, lewat perintah rahasia, Menteri Tanah Jajahan Van De Putte atas nama pemerintah Belanda menginstruksikan kepada Gubernur Jenderal Lauden yang berkedudukan di Batavia agar mulai menyerang Aceh. Secepat kilat Lauden segera menggelar sidang khusus mengecek kesiapan armadanya di lapangan dan mematangkan hal-hal teknis lainnya.

Sejarahwan Anthony Reid dalam disertasi program doktoralnya di Cambridge University yang meneliti hubungan antara Aceh, Belanda, dan Inggris dalam kaitannya dengan perang kolonial tahun 1858-1898[1] melukiskan hari-hari menjelang dimulainya perang kolonial Belanda atas Aceh.

Reid menulis bahwa Gubernur Jenderal Lauden pada 4 Maret 1873 mengirim ultimatum kepada Aceh agar dalam waktu 24 jam mau mengakui kedaulatan Belanda dan jika tidak maka berarti perang.

Lauden sudah kehilangan kesabaran menghadapi Aceh yang terus-menerus berkelit dan menunjukkan sikap yang tidak ramah kepada Belanda. “Kebijakan Aceh yang membingungkan mengenai Pemerintah Belanda harus diakhiri. Negeri itu tetap merupakan titik lemah kita sepanjang menyangkut Sumatra. Selama negeri itu tidak mengakui kedaulatan kita, campur tangan asing akan terus mengancam  kita seperti pedang Damocles… Tanpa pamer kekuatan militer ini sudah pasti bahwa Aceh akan terus membiarkan persoalan itu terkatung-katung, dengan harapan akan ada campur tangan asing… Aceh sudah keterlaluan.[2]

Commissioner J. F. N. Nieuwenhuyzen yang dikirim Lauden tiba di Aceh pada tanggal 22 Maret. Sultan Mahmud dengan penuh diplomatis menjawab bahwa Aceh sebenarnya ingin hidup berdampingan dengan Belanda secara damai. Sultan Mahmud malah bertanya kepada utusan Lauden itu mengapa begitu cepat datang ke Aceh padahal menurut perjanjian dengan wakil Belanda di Riau, Aceh dan Batavia sepakat bahwa kunjungan utusan Belanda diundur hingga enam bulan ke belakang?

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus