free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (11)

Redaksi – Sabtu, 26 Ramadhan 1440 H / 1 Juni 2019 11:30 WIB

Sultan Mahmud pun melarang Nieuwenhuyzen turun ke darat tanpa seizinnya. Frustasi menghadapi Sultan Aceh yang sedikit pun tidak menunjukkan rasa gentar, Nieuwenhuyzen memerintahkan agar kapal meriam yang ditumpanginya memuntahkan peluru ke pantai pada tanggal 26 Maret 1873 sebagai peringatan. Tidak lama setelah itu, Belanda mengumumkan secara resmi perang dengan Aceh kepada negeri-negeri Eropa.

Sabtu dini hari, 8 April 1873, langit masih gelap gulita. Air laut masih tampak kelabu. Di tengah Selat Malaka, bayang-bayang puluhan kapal perang Belanda tampak beriringan menuju satu titik, Aceh Darussalam.

Di pagi buta itu, Belanda telah mantap untuk menyerang Kerajaan Aceh Darussalam. Perang kolonial secara resmi telah di mulai di Tanah Rencong. Menurut Anthony Reid, tak kurang dari 30.000 serdadu Belanda mendarat di pantai Aceh.

Awalnya Belanda mengira, dengan serangan mendadak dan didukung kekuatan bombardemen artileri dari mulut-mulut meriam yang ada di kapal-kapal perangnya, pesisir Aceh bisa dengan mudah direbut. Setelah pesisir dikuasai, maka pasukan infanteri akan langsung menusuk ke daerah pedalaman.



Berbekal informasi dari pasukan telik sandi yang telah disusupkan sebelumnya, Belanda amat yakin dapat menaklukkan seluruh tanah Aceh dalam waktu yang singkat. Apalagi kondisi kerajaan Aceh Darussalam saat itu tidak sekuat di masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Dengan besar kepala, Belanda mengira bisa memenangkan peperangan melawan Aceh dengan mudah.

Namun Belanda agaknya khilaf. Faktor kekuatan rakyat Aceh sebenarnya bukan terletak pada keunggulan atau kelengkapan persenjataan, bukan terketak pada strategi yang muluk-muluk, dan bukan terletak pada kecintaan akan kehidupan duniawi. Satu-satunya faktor yang membuat rakyat Aceh begitu kuat dan teguh di dalam berperang menghadapi setiap penjajah adalah Islam. Portugis telah merasakan itu hingga diakhir kekuasaannya atas Malaka tidak mampu juga menaklukkan Aceh. Belanda melupakan pengalaman pahit Portugis.

Menghadapi serbuan tentara Belanda rakyat Aceh sama sekali tidak gentar. Di seluruh Bumi Rencong para ulama mengeluarkan fatwa jihad fi sabilillah melawan tentara kafir. Perang sabil pun dikumandangkan. Berbondong-bondong rakyat Aceh dengan persenjataan seadanya menyongsong tentara salib Belanda dengan keberanian yang tiada taranya. Mereka menyambut maut dengan senyum dan penuh pengharapan.

Tidak hanya laki-laki, para perempuan Aceh pun segera mengambil rencong dan menyisipkan ke pinggangnya. Dengan tangan kiri menggendong sang jabang bayi, para perempuan Aceh ini segera berlari masuk hutan guna menyusun kekuatan. Semangat jihad fisabilillah yang demikian berurat-berakar dalam dada setiap orang Aceh membuatnya sangat enteng meninggalkan rumah dengan segala harta bendanya untuk pergi berperang menyongsong musuh Allah.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus