free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (11)

Redaksi – Sabtu, 26 Ramadhan 1440 H / 1 Juni 2019 11:30 WIB

Di kala malam tiba, sambil terus bersiaga di dalam gua-gua yang gelap gulita, para perempuan Aceh nan perkasa ini meninabobokan jabang bayinya dengan senandung “Dododaidi”. Senandung jihad itu meluncur pelan dari bibir-bibir yang kerap berpuasa dengan iringan musik desahan angin serta gemerisik dedaunan hutan. Inilah terjemahan dari lagu Dododaidi:

Allah hai dododaidi[3]

Buah gadung buah-buahan dari hutan

kalau sinyak[4] besar nanti, Ibu tidak bisa memberi apa-apa

aib dan keji dikatakan orang-orang

 

Allah hai dododaidang

Layang-layang di sawah putus talinya

cepatlah besar Anakku sayang dan jadilah seorang pemuda yang gagah

agar bisa berangkat perang membela Nanggroe

 

Wahai anakku, janganlah kau duduk berdiam diri lagi

mari bangkit bersama membela bangsa

janganlah takut jika darah mengalir

walaupun engkau mati Nak, Ibu sudah relakan

Ayo sini Nak Ibu tatih, kemarilah Nak Ibu tatih

bangunlah anakku sayang, mari kita bela Aceh

sudah tercium bau daun timphan[5]

seperti bau badan Sinyak Aceh

 

Allah Sang Pencipta yang Punya Kehendak

jauhnya kampung tak tercapai untuk pulang

andaikan punya sayap, Ibu akan terbang

supaya cepat sampai ke Nanggroe

 

Kemarilah Ibu timang-timang Nak



sayangnya ombak memecah pantai

kalau Sinyak yang berkulit putih udah besar

dimanakah engkau akan berada nanti buah hatiku…

Inilah lagu pengantar tidur bayi-bayi Aceh. Betapa mulia para perempuan Aceh itu yang telah menanamkan semangat jihad membela agama Allah kepada anaknya sejak dini, saat sang anak berjalan pun belum mampu. Anak-anak Aceh dibesarkan bukan dengan lagu-lagu yang menggambarkan keindahan alam, bukan disenandungkan tentang gemerisik dedaunan atau air terjun, bukan berisi lagu-lagu cinta dan segala kecengengannya, tetapi dengan lagu-lagu jihad fisabilillah­, yang menisbikan dunia dan meninggikan akherat. Inilah bayi-bayi sejati Serambi Mekkah!

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus