free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (12)

Redaksi – Sabtu, 26 Ramadhan 1440 H / 1 Juni 2019 12:30 WIB

maxresdefaultEramuslim.com – Tidak sampai tiga pekan setelah mendarat di pantai Aceh pada tanggal 8 April 1873 itu, sisa-sisa serdadu Belanda sudah kembali lagi naik kapal setelah menghadapi perlawanan paling sengit yang pernah dialami militer Belanda di Timur. Jenderal Kohler, panglima Belanda, terbunuh pada 14 April.

Kohler mati dengan dada tertembus peluru sniper Mujahidin Aceh saat memimpin penyerangan ke Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Kohler langsung ambruk bersimbah darah di halaman depan masjid bersejarah itu.

Dalam serangan dua hari yang sia-sia itu di dalam kota Banda Aceh, Belanda menderita kerugian yang luar biasa besar. Setelah Indonesia merdeka, tempat ambruknya Jenderal Kohler di halaman depan Masjid Raya Baiturrahman itu dibuat sebuah monumen. Hari ini monumen itu masih tegak berdiri, selamat dari sapuan tsunami. Salah satu diorama di Museum TNI Satria Mandala Jakarta juga telah melukiskan peristiwa bersejarah ini.

Patah semangat dan dilanda frustasi, merasa terkepung di negeri yang sama sekali tidak dikenalnya, Nieuwenhuyzen dan para petinggi militer Belanda akhirnya dengan panik memutuskan untuk mundur sampai armada yang lebih besar dapat diperlengkapi setelah musim angin barat-daya.

Orang-orang Aceh bertempur dengan gagah berani dan menggunakan senjata mereka dengan cekatan, tetapi tidak ada orang yang lebih terheran-heran daripada mereka sendiri ketika menyaksikan Belanda mengundurkan diriā€¦ Rakyat Indonesia yang lain hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam pengalaman mereka, pasukan Belanda yang cukup besar dipaksa mundur oleh orang-orang Indonesia.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus