free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (12)

Redaksi – Sabtu, 26 Ramadhan 1440 H / 1 Juni 2019 12:30 WIB

Enam bulan selanjutnya penuh ketegangan bagi pemerintah Hindia Belanda dan menggelorakan semangat bagi beberapa orang Indonesia yang mulai yakin bahwa “tuan-tuan” mereka orang Eropa bukanlah orang yang tidak terkalahkan. Dan peristiwa-peristiwa dramatis ini membawa Aceh ke pentas pemberitaan di Eropa.[1]

Setelah berhasil memukul mundur armada salib Belanda pada ekspedisi pertama di bulan April 1873, rakyat Aceh bersiap-siap menyambut datangnya pasukan kafir itu yang hampir dipastikan akan kembali menyerang dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama dan dalam jumlah serta kekuatan yang lebih dahsyat.

Dari berbagai daerah pedalaman, dari berbagai dayah dan meunasah, ribuan rakyat Aceh lengkap dengan aneka senjata mengalir menuju ibukota, Banda Aceh, yang diperkirakan akan kembali menjadi target serangan Belanda. Kebanyakan datang ke ibukota bersama para ulama yang sekaligus menjadi komandannya. Di perkampungan pelabuhan-pelabuhan kecil di pesisir Barat di utara Meulaboh, semangat jihad membuat setengah penduduknya berangkat ke Banda Aceh. Namun jumlah yang lebih besar berasal dari Aceh Besar, yang dipimpin oleh Panglima Polem di Mukim XXII. Reid mencatat, jumlah yang dari Aceh Besar itu berkisar antara 10.000 sampai 100.000 prajurit.[2]

1873AchineseWarriorContextPhotoTropen01Kota Banda Aceh dipenuhi oleh ratusan ribu laskar Islam Aceh. Panji-panji syahadat berkibar di mana-mana ditiup angin laut berdampingan dengan bendera kerajaan. Tenda-tenda besar didirikan di seluruh kota hingga ke pantai. Pucuk-pucuk meriam kembali di arahkan ke laut. Secara bergiliran, di sekitar perairan Aceh, kapal-kapal kecil Aceh nan lincah terus berpatroli. Dari atas gunung dan bukit yang tinggi, pasukan pengintai tampak terus berjaga mengawasi garis cakrawala di laut, melihat kalau-kalau ada kapal-kapal perang Belanda kembali datang.

Setiap adzan bergema dari kubah Masjid Raya Baiturahman, secara bergantian para Mujahidin Aceh itu melakukan sholat berjamaah. Setiap usai sholat berjamaah dan juga saat sholat Jum’at, para khotib yang berdiri di mimbar dengan penuh semangat terus menggelorakan jihad fi sabilillah. Berbagai sirah Rasulullah SAW pada saat perang pun dipaparkan. Semua itu membuat semangat jihad rakyat Aceh kian membara.

Sebelum Belanda menyerang Aceh kembali, secara diam-diam, Belanda menyusupkan belasan mata-matanya yang terdiri dari orang Melayu dan Arab dari Batavia ke Aceh. Dalam masa-masa ini, Belanda menelan pil pahit dan kehilangan muka akibat dipukul mundur oleh Laskar Aceh

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus