free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (12)

Redaksi – Sabtu, 26 Ramadhan 1440 H / 1 Juni 2019 12:30 WIB

Anthony Reid dalam disertasi doktoralnya malah menyebutkan bahwa dalam periode ini beberapa orang Muslim Eropa bahkan telah berada di Aceh untuk berjuang bersama Muslim Aceh menghadapi kafir Belanda. Di antara mereka adalah: Luhrig, seorang Muslim Jerman, yang akhirnya meninggal karena sebab-sebab yang tidak diketahui di pantai Timur. Lalu F. J. Sheppard, seorang Muslim Amerika yang telah pergi haji, dan Thomas Carr, juga Muslim Amerika. [3]

Di samping itu, ada pula sejumlah perwira Turki yang membantu Aceh. Dari Singapura, dikabarkan pula ada dua orang perwira artileri Turki yang menyeberang ke Aceh.[4] Selain itu, setelah Belanda menyerang Aceh untuk yang kedua kali, November 1873, beberapa serdadu Belanda yang berasal dari para kriminal dan sampah masyarakat di Eropa, pada tahun 1879 melakukan desersi dan menyeberang membantu perjuangan rakyat Aceh.[5]



Dari komunitas Muslim yang ada di Singapura, yang terdiri dari para pengusaha Arab yang kaya dan memiliki jaringan niaga dengan Muslim Asia, setelah mendengar Belanda memaklumkan perang terhadap Aceh, timbul gerakan menghimpun dana perang Aceh. Para pedagang Arab ini mengontak para relasinya di seluruh Asia dan juga Nusantara untuk menggalang dana bantuan bagi Aceh.

Laporan mata-mata Belanda menyebutkan, “Dana dalam jumlah yang besar sekali “ untuk membantu Aceh telah terkumpul dalam waktu singkat.[6] Dari Jawa dan Singapura saja telah terkumpul dana hibah sebesar satu juta Dollar Straits. Pada bulan November 1874 saja terkumpul 100.000 Dollar Straits.[7]

Di Singapura, pusat dari aktivitas solidaritas Aceh ada di sebuah masjid yang dirawat oleh keluarga al-Sagoff di Kampung Glam. “Semua orang Muslim yang paling fanatik berkumpul di masjid ini mendengarkan laporan pekanan mengenai Aceh dari agen-agen Sayyid Muhammad al-Sagoff, dan memanjatkan doa bersama semoga pasukan bersenjata Aceh berhasil,” demikian laporan mata-mata Belanda kepada Read yang diteruskan kepada Van Lansberge tertanggal 2 April 1876. Doa untuk kemenangan rakyat Aceh ternyata juga dipanjatkan di hampir semua masjid di Nusantara, Johor, dan Penang.

Keluarga al-Sagoff adalah salah satu keluarga Muslim terkaya dan paling berpengaruh di Singapura. Sayyid Ahmad bin Abdurrahman As-Sagoff, sang kepala keluarga, adalah pedagang besar pemilik kapal dan dermawan Muslim. Ia pemilik dua kapal uap yang mengarungi jalur Jeddah-Singapura dan menyewa kapal-kapal lain sehingga menguasai pengangkutan jemaah haji di seluruh Asia Tenggara. Puteranya, Sayyid Muhammad As-Sagoff, bahkan lebih aktif lagi. Belanda yakin kedua orang ini adalah dalang dari kegiatan solidaritas Aceh di Singapura.[8]

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus