free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (12)

Redaksi – Sabtu, 26 Ramadhan 1440 H / 1 Juni 2019 12:30 WIB

Masih di Singapura, Haji Ismail bin Haji Abubakar, seorang pengusaha penginapan bagi orang-orang Jawa yang hendak naik haji ke Mekkah, menulis surat kepada ayahnya seorang penghulu di Banyumas dan juga kepada Bupati di Serang, berisi pesan bahwa Khalifah di Turki akan segera membantu Aceh dan menghimbau agar seluruh Muslim di Jawa juga aktif membantu Muslim Aceh. Haji Ismail juga menyerukan agar jemaah haji di Jawa bisa dikirimkan kepadanya agar nantinya bisa dikirimkan lagi ke Aceh bila tiba waktunya.

Sultan Riau, Sultan Yogya, dan pemimpin-pemimpin Islam di banyak daerah di Nusantara juga menerima surat serupa dari berbagai tokoh Islam Asia. Bahkan surat untuk bersedia mengirim pasukan ke Aceh. Mereka semua bersepakat harus membantu Aceh menghadapi agresi Belanda. Ini merupakan salah satu gambaran betapa ukhuwah Islamiyah di zaman itu masih sungguh-sungguh terasa. Sayangnya, beberapa surat tersebut jatuh ke tangan Belanda.[9]

Keberhasilan Mujahidin Aceh menghalau serbuan Belanda dalam ekspedisi pertamanya itu betapa pun juga telah menjadi satu ide bagi banyak warga pribumi di Nusantara untuk memberontak terhadap penjajah Belanda.

Enam bulan setelah kegagalan yang memalukan, pada November 1873, dari Batavia, Belanda kembali mengirim ekspedisi kedua untuk menyerang Aceh. Kali ini dengan kekuatan dan jumlah yang jauh lebih besar. Anthony Reid mencatat: Belanda sadar betul bahwa ekspedisi kali ini akan mendapat perlawanan lebih sengit dibandingkan dengan ekspedisi pertama. Perasaan keagamaan telah bangkit di Aceh karena serangan yang dilancarkan Belanda tanpa sebab-musabab yang jelas dan perlawanan yang berhasil memukul mundur Belanda. Banyak ulama berkhotbah bahwa perang itu jihad, kewajiban, dan hak istimewa setiap Muslim. Sebagian besar pemimpin adat kehilangan pengaruh mereka, kalah oleh pemimpin-pemimpin yang dikenal memiliki kemampuan memimpin perang atau membangkitkan semangat keagamaan.[10] (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

———————————-

[1] Anthony Reid, ibid, hal. 104-105.

[2] Ibid, hal. 118.

[3] Ibid, hal.148.

[4] Hasil laporan mata-mata Read, yang ditulis dalam surat dari Read kepada Van Lansberge tertanggal 16 Maret dan 17 April 1876, dikutip Anthony Reid, hal.149.

[5] Ibid.

[6] Ibid, hal.158.



[7] Surat Maier kepada Leuden, 22 November dan 14 Desember 1874.

[8] Anthony Reid, ibid, hal. 159.

[9] Ibid, hal.161.

[10] Ibid, hal. 117.

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus