free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (13)

Redaksi – Senin, 28 Ramadhan 1440 H / 3 Juni 2019 06:15 WIB

14 soldaten van het KNIL Atjeh oorlog Sumatra Ned.IndiëEramuslim.com – Jumlah pasukan Belanda yang dikerahkan dalam serangan kedua ini merupakan jumlah pasukan terbesar yang pernah digelar dalam satu operasi di Nusantara. Selain tentara regulernya yang berjumlah puluhan ribu, Belanda juga mengerahkan tak kurang dari 8.500 anggota pasukan elitnya, 1.500 pasukan cadangan, dan 4.300 pelayan dan kuli.

Seperti halnya dengan anggota pasukan Salib pertama yang direkrut dari para perampok, maling, narapidana, dan sampah masyarakat lainnya, maka tentara Belanda yang diberangkatkan ke Aceh ini juga diambil dari kalangan sampah masyarakat dari berbagai negeri Eropa.

Berbagai media Eropa menyebut pasukan Belanda ini sebagai pasukan yang memiliki disiplin dan moral yang amat rendah, dan bahkan menjijikkan bagi para pengamat dari Inggris.[1]  Dan sebagai komandan pasukan keseluruhan, General Van Swieten dipanggil kembali dari pensiunnya dan diberikan upah yang sangat menggiurkan.

Yang patut menjadi catatan, di Batavia pada bulan November 1873 tengah berjangkit penyakit menular kolera yang saat itu belum ada obatnya. Banyak dari serdadu Belanda yang akan berangkat ke Aceh tertular penyakit ini. Tak kurang dari 80 serdadu meninggal akibat kolera di tengah perjalanan dan mayatnya dibuang ke laut.

Tanggal 9 Desember 1873, pasukan Belanda mendarat di Aceh di tengah hujan tembakan meriam laskar Aceh. Karena kekuatan senjata yang tidak seimbang, Belanda dapat menghalau laskar Aceh dari pantai. Pada hari Natal, 25 Desember 1873, pasukan Belanda merayakannya dengan melepaskan tembakan dan bom ke pusat kota Banda Aceh. Inilah kasih Natal bagi rakyat Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman yang dipertahankan oleh pasukan Tuanku Hashim akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 6 Januari 1874. Kolera yang menjangkiti serdadu Belanda akhirnya menulari laskar Aceh. Pada 24 Januari 1874, saat pasukan yang dipimpin langsung oleh General Van Swieten mengepung istana kerajaan Aceh (keraton), laskar Aceh sengaja meninggalkan tempat itu yang sudah dipenuhi kuman kolera dan mundur ke bukit-bukit. Akibatnya, kian banyak serdadu Belanda yang terkena kolera di dalam istana tersebut dan mati konyol.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus