free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (13)

Redaksi – Senin, 28 Ramadhan 1440 H / 3 Juni 2019 06:15 WIB

“Jatuhnya” istana kerajaan Aceh itu menimbulkan semangat baru bagi para serdadu Belanda. Dengan langkah mantap dan gagah, mereka berbaris memasuki istana yang sudah kosong dan lapuk. Di Belanda sendiri, momen ini disambut dengan penuh sukacita. “Antusiasme umum meletus, bendera berkibar di mana-mana dan ucapan selamat membanjiri Jenderal itu (Swieten).”[2]

Serdadu Belanda yang memasuki istana bertingkah-laku sangat kekanak-kanakan saking girangnya. Mereka beramai-ramai naik ke atas Gunongan—sebuah miniatur gunung berpundan-pundan yang berada di dalam kompleks istana yang dibangun pada abad ke-17 dan dulu dipergunakan sebagai tempat perempuan istana bercengkerama—sambil tidur-tiduran atau sekadar duduk-duduk. Mereka belum menyadari bahwa kolera diam-diam tengah membunuhnya.

Walau sudah “menguasai” istana, serdadu Belanda agaknya tidak juga merasa aman seratus persen. Tiap hari ada saja sniper-sniper Aceh dan aneka sabotase yang merenggut korban mati di pihaknya. Keadaan bertambah gawat ketika serdadu Belanda itu mengadakan operasi pembersihan ke wilayah perbatasan kota atau kampung. Tiap hari, jumlah korban yang jatuh di pihak Belanda makin bertambah banyak.

Keberhasilan “menaklukkan “ istana yang semula dianggap suatu keberhasilan ternyata menjadikan pasukan Belanda terkepung di Kutaradja. Mereka tidak bisa keluar jauh-jauh dari lingkungan istana. Bahkan untuk sekadar mendatangkan logistik saja, mereka harus mendatangkannya dari Penang setelah menerobos kepungan laskar Aceh di darat dan Selat Malaka dengan jumlah korban yang tidak sedikit.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_KNIL_militairen_bij_verschillende_stukken_artilleriegeschut_in_een_benteng_in_Noord_Atjeh_aan_het_begin_van_de_Atjeh-oorlog_Noord-Sumatra._TMnr_60042385Keadaan ini akhirnya memusingkan pejabat Belanda sendiri. Untuk meminimalisir kerugian yang lebih besar di pihaknya, Belanda menggelar sidang rahasia staten general pada tangal 16-17 Juni 1884. Sidang ini memutuskan untuk melaksanakan strategi “Stelsel konsentrasi” di Aceh, yang sesungguhnya mengikut strategi perang Belanda “Benteng Stelsel” ketika menghadapi perlawanan dari Pangeran Diponegoro (1825-1830).

Maksudnya, di tiap wilayah yang telah berhasil direbut pasukan Belanda, maka sesegera mungkin didirikan benteng dengan pagar yang tinggi dan kokoh. Dari sini Belanda bergerak terus memperluas wilayahnya, mendirikan benteng lagi, dan begitu seterusnya. Strategi ini memang cukup melelahkan tapi terbukti mampu menekan angka kerugian baik moril maupun materil.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus