free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (14)

Redaksi – Senin, 28 Ramadhan 1440 H / 3 Juni 2019 09:15 WIB

hurgronje_christiaan_snouck1Eramuslim.com – Ketika Belanda menyerbu Aceh pertama kali, April 1873, Habib Abdurahman tengah berada di Mekkah bersama Nyak Abas, seorang pemilik kebun lada yang luas di Aceh. Mereka berdua ke Mekkah bersama dari Penang. Habib Abdurrahman lalu bergegas berangkat ke Konstantinopel, ibukota Turki Utsmani, dan tiba tanggal 27 April saat pasukan Belanda baru saja mundur dan kabur dengan kapal-kapal perang mereka.

Di Turki, Habib Abdurrahman menyampaikan pesan dari Sultan Mahmud bahwa sebagai bagian dari protektorat Turki Utsmani, Aceh seharusnya dibantu dalam menghadapi serangan kafir Belanda.

Hanya saja, kunjungannya kali ini bisa dikatakan gagal karena kondisi Turki sendiri sudah banyak berubah disebabkan rongrongan dan konspirasi dari kekuatan Yahudi. Menteri Kehakiman Midhat Pasha, tokoh reformasi Turki yang menjabat sebagai Menteri Kehakiman lalu Perdana Menteri, merupakan seorang pejabat yang paling berpengaruh di dalam pemerintahan Turki. Siapa Midhat Pasha?

“Midhat Pasha adalah tokoh yang mengepalai gerakan masonisme dan mengendalikan club-club masonisme di Turki. Midhat Pasha mendapat dukungan negara-negara Barat dan Timur dalam menjalankan program sekularisasi di Turki. Mereka menyebutnya sebagai Bapak Pembebasan.”[1]

Midhat Pasha jualah yang telah membunuh dua khalifah Turki sebelum Khalifah Abdul Hamid yang bertindak tegas terhadap Yahudi. Kedua Khalifah yang dibunuh Midhat Pasha adalah ayah dan paman Abdul Hamid sendiri.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus