free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (15)

Redaksi – Senin, 28 Ramadhan 1440 H / 3 Juni 2019 12:15 WIB

Entah mengapa Liddle mematok angka 30 tahun perjuangan rakyat Aceh, yang berarti hanya sedari tahun 1912. Padahal perang kolonial rakyat Aceh terhadap Belanda dimulai pada tahun 1873 dan terus bergejolak hingga Belanda hengkang dari Aceh pada tahun 1942 menjelang Jepang datang.

Angka yang tepat untuk menggambarkan lamanya Prang Sabil di Aceh adalah dari tahun 1873 hingga 1942, yaitu selama hampir 70 tahun. Yang juga patut diketahui, Prang Sabil selama itu di Aceh terjadi karena rakyat Aceh semata-mata berdasarkannya pada jihad fisabilillah, bukan karena ideologi-ideologi lain.

Tentang Snouck Hurgronje, H. Ridwan Saidi punya catatan tersendiri. Budayawan Betawi yang juga pemerhati sejarah Yahudi ini pernah mendatangi makam Snouck di Leiden, Belanda, tahun 1989 bersama intelektual Belanda Dr. Karel Steenbreenk dan Dr. Martin Van Bruinesen, dan menemui puteri Snouck Hurgronje satu-satunya—yang diakui Hurgronje—bernama Christien Maria Otter.

Kunjungannya ke Belanda ini menorehkan keyakinan yang sangat dalam pada dirinya bahwa Snouck Hurgronje merupakan seorang orientalis Belanda yang mempraktekkan strategi berpura-pura masuk Islam (Izharul Islam) untuk menangguk keuntungan pribadinya, walau Snouck sendiri pernah mengawini sejumlah perempuan Muslim secara hukum Islam. “Snouck Hurgronje tidak dimakamkan secara Islam,” demikian Ridwan.[3]

Salah satu rekomendasi terpenting Snouck Hurgronje kepada pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi perlawanan umat Islam adalah strategi adu domba antara kaum agama dengan kaum bangsawan atau kaum feodal (devide et impera). Terbukti kelak, strategi kuno tersebut ternyata sampai hari ini masih saja dipakai oleh bangsa Barat (Christendom) untuk menjajah bumi Islam, seperti halnya di Irak ketika Amerika mengadu-domba antara kaum Sunni dengan kaum Syiah.

Sepuluh Pastor Yesuit Untuk Nusantara



Ada perkembangan baru di Hindia Belanda terkait penyebaran salib yang tidak boleh diabaikan. Dua tahun setelah Snouck Hurgronje lahir di Oosterhout, Belanda, ribuan mil jauhnya di tanah jajahan bernama Hindia Belanda (Nederlandsche Indie), tepatnya tahun 1859, kaum Yesuit (Serikat Jesuit) mengambil-alih misi penyebaran salib untuk seluruh Nusantara.

300px-Overste_van_Heutsz_bij_Selimoen,_begin_1897Sejarahwan Belanda J. Wils menulis, “…kaum Yesuit pada tahun 1859 mengambil-alih misi di Indonesia. Tugas yang dibebankan pada mereka sangat besar. Hanya ada sepuluh pastor bagi satu tempat yang terbentang dari Aceh hingga Timor (enampuluh kali negara Belanda). Tetapi mereka biarpun begitu, dapat bertahan.”[4]

Tahun 1902, 53 tahun setelah itu, dari jumlah awal sepuluh pastor kini telah bertambah menjadi 54 pastor dan telah didirikan lima konggregasi bruder dan suster bagi pemeliharaan pengajaran (Ursulin, Bruder dari Aloysius Kudus, Susters Fransiskarnes, dan sebagainya).

Setelah Banda Aceh “diduduki” Belanda tahun 1904, maka Belanda pun mulai membangun berbagai sarana penunjang keberadaannya seperti asrama bagi pasukannya. Di tepi Krueng (Sungai) Aceh, nyaris berhadap-hadapan dengan Masjid Raya Baiturrahman, Belanda mendirikan sebuah asrama besar bagi pasukannya.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru