free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (15)

Redaksi – Senin, 28 Ramadhan 1440 H / 3 Juni 2019 12:15 WIB

Di tahun 1926, di dalam asrama itu Belanda  membangun sebuah gereja yang aktivitasnya berada di bawah Ordo Katolik Hati Kudus. Pada hari Minggu, 26 September 1926, diselenggarakan misa pertamanya. Dengan demikian, di hari itu resmilah penggunaan gereja pertama di Bumi Serambi Mekkah itu.

Gereja Hati Kudus tidak terlalu besar. Dindingnya berwarna krem dengan ornamen kaca warna-warni dan keramik empat warna. Gereja ini dulunya merupakan Kapel Hari Kudus yang dibangun sekitar tahun 1885 dengan Pastor Henricus Verbraak, SJ, sebagai pastor pertamanya. Verbraak merupakan seorang pastor tentara Belanda dan kapel tersebut dipergunakan sebagai tempat beribadah para tentara Belanda.

Namun seiring berjalannya waktu, yang beribadah ke kapel tersebut bukan hanya tentara Belanda, tetapi juga sejumlah orang asing yang tengah berada di Aceh seperti para pedagang Eropa dan Cina. .

Setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, asrama tentara Belanda di tepian Krueng Aceh itu dijadikan markas tentara Republik Indonesia. Walau demikian, gereja itu tetap berfungsi sebagaimana aslinya. Sekarang, gereja tersebut berada di dalam Markas Komando Daerah Militer Iskandar Muda.

Berdirinya sebuah gereja di Aceh tidak terlepas dari dikukuhkannya kaum Yesuit menjadi pengemban misi utama di seluruh Indonesia oleh pemerintah Belanda. Sejarah dunia memang mencatat, kaum Yesuit merupakan sebuah kelompok dalam agama Katolik yang sangat militan di dalam mengemban tugas keimanannya. Di saat kelompok lain dalam agama Katolik sudah menyerah dalam mengemban tugas-tugas keagamaannya, maka biasanya barulah hal tersebut diserahkan kepada kaum Yesuit untuk dilaksanakan.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kaum Yesuit (SJ, Serikat Jesuit) merupakan “special forces”nya agama Katolik. Sama halnya dengan Spetsnaz-nya tentara Rusia, dan Delta Force-nya tentara Amerika Serikat.

Walau berada di wilayah yang terkenal sebagai Serambi Mekkah-nya Indonesia, Gereja Hati Kudus dan para jemaatnya berpuluh tahun tidak pernah mengalami gangguan dari Muslim Aceh. Inilah sebuah bukti tak terbantahkan betapa umat Islam sejak dulu telah melaksanakan apa yang kini disebut sebagai toleransi antar umat beragama. Sangat beda dengan apa yang pernah dan masih dialami umat Islam yang berada di wilayah Timor Timur (sekarang Timor Lorosae) yang dihuni mayoritas umat Katolik.

Sepanjang tahun, umat Islam di Timor Lorosae senantiasa berada dalam ketakutan karena banyaknya teror dan gangguan fisik yang terjadi menimpanya. Bahkan warga asli Timor Lorosae pernah beberapa kali menyerang masjid di sana dan membakarnya. Setelah lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, pemerintah Timor Lorosae membiarkan terjadinya upaya pengusiran terhadap ratusan umat Islam setempat agar keluar dari wilayah yang mereka sebut sebagai Tanah Kristus.

Sampai detik ini persoalan pengusiran ratusan umat Islam tersebut belum terselesaikan. Jika demikian, siapa yang sebenarnya harus belajar lagi makna toleransi kehidupan antar umat beragama? (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

———————

Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest:Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest



[1] DR. MR. T.H. Moehammad Hasan; ibid; hal. 9.

[2] R. William Liddle; “Let Aceh Be Aceh”; artikel yang dimuat di Majalah Tempo, 4 Juli 1987. Dikutip dari buku “Islam, Politik, dan Modernisasi”; SInar Harapan; cet.1; 1997; Jakarta: hal.241.

[3] Tulisan Ridwan Saidi tentang sosok Snouck Hurgronje bisa dilihat dalam buku “Fakta dan Data Yahudi di Indonesia, Dulu dan Kini” terbitan Khalifa (Divisi Pustaka al Kautsar); Jakarta; Cet. 1; 2006; hal. 93-108. Dalam tulisannya itu, Ridwan banyak memaparkan hasil penelitian sarjana Ahli Arab asal Belanda, DR. P. S. Van Koningsveld yang banyak membongkar kebohongan Snouck, termasuk berbagai plagiatisme Snouck dalam berbagai karyanya.

[4] J. Wils; ibid, hal. 360.

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru