free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (16)

Redaksi – Selasa, 29 Ramadhan 1440 H / 4 Juni 2019 08:45 WIB

Tidak kebetulan pemberontakan PUSA terhadap Belanda itu dimulai di Seulimeum. Sebab kota itu yang letaknya di pegunungan, sedari dulu terkenal sebagai tempat kelahiran Ulama-ulama yang terkemuka, yang mempunyai banyak sekolah dan murid di sini. “Fanatik, benci akan orang asing,” demikian tulisan DR. C. Snouck Hurgronje tentang penduduk Seulimeum ini dalam tahun 1894.

Dan ketika dalam tahun 1937 seorang Controleur Belanda omong-omong dengan seorang tua, penduduk Seulimeum itu tentang kesudahan Perang Aceh dengan Belanda (1873-1904), Controleur itu mendapat jawaban: Kita bukan “talo” (=takluk), cuma “dame” (=kedua belah pihak setuju mengakhiri perang itu).

Perasaan dan keyakinan bukan “talo” itu yang dipendam demikian lamanya, sekarang bisa meletus keluar terhadap kafir Belanda. Dengan mendapat bantuan para Ulama yang tua, maka terjadilah gerakan pemberontakan secara missal ini. Tapi bahwa sesudah kafir Belanda itu diusir, nanti akan datang kekuasaan Jepang. Juga kafir, tidak dipikirkan lebih jauh. Primair kekuasaan Belanda harus disingkirkan. Kekuasaan Jepang ada urusan secondair.

Di malam 23-24 Februari 1942 seorang pegawai Belanda dari jawatan kereta api (Graaf U. Bernstorff von Sperling) mati dibunuh. Di malam 7-8 Maret 1942 kembali terjadi gelombang besar sabotase pada hubungan lalu lintas di seluruh Aceh, yang dilakukan oleh angggota organisasi Fujiwara, yaitu orang-orang Aceh Kolone V di bawah pimpinan organisasi Jepang Fujiwara Kikan dengan siapa PUSA bekerja bersama dengan rapat sekali.

Poliklinik di Indrapuri dirampok. Assisten Resident Van den Berg di Sigli mati dibunuh. Kotanya dirampok. Tanggal 8 Maret tibalah warta radio yang mengejutkan, bahwa tentara KNIL di Jawa telah menyerah pada Jepang, tapi di Aceh sendiri tentara Nippon belum mendarat. Itu baru terjadi di malam 11-12 Maret. DR. Piekaar yang waktu itu berada di Kutaraja melukiskan malam itu sebagai malam penuh siksaan batin (een nacht vol verschrikking) sebab selain kemungkinan pendaratan Nippon, tiap saat ditakuti serangan orang Aceh secara mendadak di waktu malam.

Dalam keadaan begitu, pendaratan Jepang, oleh pihak Belanda malah dirasakan hampir sebagai berakhirnya penderitaan (welhaast al seen verlossing).”



Ketua PB PUSA Teungku Muhammad Daud Beureueh saat itu banyak melakukan pengkoordinasian sesama pemimpin dan ulama Aceh untuk mengatur strategi mengusir Belanda dari Aceh dan menghadapi kedatangan Jepang.

baiturrahmanmosquebandaacehBulan Desember 1941 ketika perang Pasifik pecah, di sebuah rumah yang terpencil dan aman, Daud Beureueh mengumpulkan Teungku Abdul Wahab Seulimeum, Kepala Cabang PUSA Aceh Raya Teuku Nyak Arif, Panglima Sagi XXVI Mukim, Teuku M. Ali Panglima Polem, Panglima Sagi XXII Mukim, dan Teuku Ahmad, seorang Uleebalang di Jeunieb (Samalanga).

Di akhir pertemuan, mereka semua meneguhkan janji dan bersumpah setia kepada agama Islam, kepada bangsa dan tanah air, dan akan bekerjasama dengan kerajaan Dai Nippon melawan Belanda, dan menyusun pemberontakan atas nama PUSA.

Dari Sigli, PUSA menyebarkan propaganda menyerang penjajah Belanda dan menyerukan rakyat Aceh agar bersedia bekerjasama dengan Jepang dalam melawan Belanda. Belanda sendiri sungguh-sungguh paham bahwa Daud Beureueh berada di belakang semua aksi ini. Namun walau pun Belanda sudah menyebarkan mata-mata ke seluruh penjuru Aceh untuk mengetahui keberadaan Teungku Daud Beureueh ini, upaya Belanda ternyata sia-sia belaka.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus