free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (16)

Redaksi – Selasa, 29 Ramadhan 1440 H / 4 Juni 2019 08:45 WIB

Daud Beureh di kemudian hari menuturkan bahwa dirinya telah disembunyikan oleh para pejuang Aceh di sebuah rumah di Kampung Metareuem yang dijadikan pusat komando.

Terhadap Jepang, PUSA sangat sadar bahwa kerjasama ini hanya dilakukan dalam hal mengusir Belanda dan menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyat Aceh. Kala itu, Inggris yang terkenal kuat dalam persenjataan dan tentaranya, tidak mampu menghadang serbuan balatentara Jepang hingga Malaya dan Singapura jatuh, apalagi Belanda.

Sebab itu PUSA memanfaatkan Jepang. Untuk melawan Jepang bukan hal yang mustahil, namun diyakini akan mengakibatkan banjir darah dan korban yang terlalu banyak di kalangan rakyat Aceh yang sudah lama menderita. Sebab itu, PUSA mengambil keputusan yang bersifat sementara untuk bekerjasama dengan Jepang.

Kecurigaan PUSA terhadap Jepang ternyata terbukti. Walau di awal Jepang berjanji akan mengusir kaum feodal kaki tangan Belanda, namun setelah berada di Aceh, Jepang malah banyak mengambil para feodal kaki tangan Belanda ini menjadi aparat birokrat. Bukan itu saja. Sikap tentara Jepang yang sombong dan sama sekali tidak memperlihatkan rasa hormat terhadap agama Islam membuat rakyat Aceh muak dan geram.

Perilaku tentara Jepang yang amat tidak islami dipaparkan oleh Brigjen (Purn) Sjamaun Gaharu. Putera Aceh ini menulis, “Rakyat Aceh pada mulanya berharap Jepang adalah pembela rakyat Aceh dan pelindung agama Islam. Tapi baru beberapa hari mereka sampai , harapan masyarakat Aceh pun sirna. Serdadu Jepang yang hanya memakai cawat berjalan di mana-mana. Hal ini bertentangan dengan adat Aceh. Orang Jepang yang menganut agama Shinto memakan babi, dan mereka melakukannya di tempat terbuka, seolah-olah dipamerkan. Akibatnya rakyat Aceh benci pada mereka.

Setiap pagi dilaksanakan upacara Seikere atau menunduk ke arah matahari terbit dengan cara rukuk. Tentu saja cara ini bertentangan dengan ajaran agama Islam. Akibatnya pada tanggal 10-11 November 1942, terjadilah pemberontakan rakyat Aceh di bawah pimpinan Teungku Abdul Jalil di Bayu, Aceh Utara… Mula-mula Jepang masuk ke Aceh, kita diperbolehkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera Merah Putih. Namun tujuh belas hari kemudian dua hal itu terlarang.”[2]

Seperti juga di daerah-daerah lain di Nusantara, rakyat Aceh selama pendudukan Jepang merasakan penderitaan yang amat sangat. Ribuan romusha yang terdiri dari rakyat Aceh dan juga orang-orang yang didatangakn dari luar Aceh dan bahkan dari Jawa bekerja siang malam membangun lapangan terbang, membuka jalan menerabas hutan belukar, dan sebagainya. Ribuan orang mati kelelahan, terkena malaria, dan juga tidak tahan menerima siksaan Jepang yang kelewat batas. Untunglah Jepang tidak terlalu lama berkuasa. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)



————————–

Artikel ini bekerjasama dengan Eramuslim Digest:Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest

[1] Star Weekly No.407, 17 Oktober 1953 tahun ke VIII yang didasarkan atas buku DR. A.J. Piekaar berjudul “Atjeh en de Oorlog met Japan”, dan dikutip kembali oleh M. Nur El Ibrahimy dalam buku “Teungku Muhammad Daud Beureueh”; Gunung Agung; Jakarta: cet.2; 1986. Hal.31-32.

[2] Ramadhan KH dan Hamid Jabbar; Sjamaun Gaharu, Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal; Pustaka Sinar Harapan; Cet.1; 1995; hal.34.

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus