free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (17)

Redaksi – Selasa, 29 Ramadhan 1440 H / 4 Juni 2019 11:15 WIB

baiturrahmanmosquebandaacehEramuslim.com – Setelah bertekuk-lutut kepada Sekutu, Jakarta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, tepat di hari Jum’at bulan Ramadhan. Berita proklamasi ini, seperti daerah lainnya di Nusantara, baru diterima beberapa hari kemudian dengan cara-cara yang berbeda.

Di Aceh, menurut penuturan Sjamaun Gaharu, berita penting tersebut masuk ke Aceh lewat berbagai cara, antara lain didapat dari hasil monitoring yang dilakukan oleh pegawai-pegawai kantor pos, penerangan, dan jawatan radio serta penerimaan radio gelap. Kepala Kantor Pos Kutaraja, lebih dikenal dengan sebutan Pak Ahmad Pos, merupakan orang pertama di Aceh yang mendengar hal ini. Ia lalu meneruskan kabar penting ini ke Teuku Nyak Arif, Teuku Ahmad Jeunib, dan Teuku Abdul Hamid. Ini terjadi pada tanggal 22 Agustus 1945.

Pada 23 Agustus 1945, di kantor Teuku Nyak Arif telah terkumpul 56 tokoh masyarakat Aceh. Teuku Nyak Arif memaparkan bahwa Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya di Jakarta, 17 Agustus 1945. Seluruh ruangan hening ketika mendengar Indonesia telah merdeka.

Sesaat kemudian, Dr. Mahyuddin berbicara, “Siapa yang setuju menyokong kemerdekaan Indonesia, agar bersumpah setia dengan syarat al-Qur’an diletakkan di atas kepalanya sendiri oleh tangannya sendiri.” Pertemuan bubar dengan janji keesokan harinya bertemu lagi di tempat yang sama untuk mengangkat sumpah setia.

Esoknya, hanya 17 tokoh Aceh yang hadir.  Pukul 09.00 wib lebih sedikit, ketujuhbelas orang itu berdiri tegak di tengah ruangan, berbaris dua. Suasana hening. Sebuah al-Qur’an diletakkan berdampingan dengan bendera merah putih berukuran 2 x 3 meter yang dijahit semalam oleh isteri Teuku Nyak Arif.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus