free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (18)

Redaksi – Rabu, 30 Ramadhan 1440 H / 5 Juni 2019 07:30 WIB

Lewat dua corong radio yang dikuasainya, Belanda dengan amat gencar melancarkan perang urat syaraf dan propaganda ke seluruh dunia bahwa apa yang dinamakan sebagai Republik Indonesia sebenarnya tidak pernah terbentuk, dan apa yang dinamakan perlawanan rakyat dan tentara Indonesia hanyalah perlawanan gerombolan pengacau bersenjata yang sama sekali tidak terorganisir. Para pemimpin pergerakan Indonesia amat gusar dengan propaganda Belanda ini. Namun mereka juga paham bahwa republik hanya punya satu buah pemancar radio di Kutaraja. Jelas ini tidak seimbang melawan propaganda Belanda.

Untuk itu maka para pemimpin pergerakan rakyat Aceh berinisiatif untuk membangun satu lagi pemancar radio dengan jangkauan sinyal yang jauh lebih kuat. Akhirnya setelah berhasil menembus blokade Belanda di Selat Malaka dengan mempergunakan speedboat, sebuah pemancar radio berkekuatan satu kilowatt berhasil diselundupkan ke Aceh dari Malaya. Pemancar ini diserahkan di bawah pengawasan Tentara Divisi X pimpinan Kolonel Husin Yusuf.

Awalnya pemancar baru ini ditempatkan di Krueng Simpo, lebih kurang 20 kilometer dari Bireun arah ke Takengon, Aceh Tengah, namun atas perintah Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo, Jenderal Mayor Teungku Muhamad Daud Beureueh, pemancar itu dipindahkan ke Cot Goh, tidak jauh dari Banda Aceh. Namun karena Belanda yang agaknya terusik dengan siaran radio ini sering membombardir wilayah sekitarnya, maka pemancar ini pun dipindahkan lagi ke tempat yang dinilai lebih aman yang disebut Rimba Raya, sekitar 62 kilometer dari Bireun ke arah Takengon.

Inilah Radio Rimba Raya dengan signal calling 19,15 dan 16 meter. Mengudara tiap hari pukul 17.00 wib hingga subuh dengan mempergunakan bahasa Indonesia, Inggris, Cina, Belanda, Arab, dan Urdu.

Selain itu, dibentuk pula PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) yang awalnya berkedudukan di daerah pegunungan Bukittinggi, Sumatera Barat, tetapi karena keamanannya dianggap kurang kondusif maka dipindahkan ke Banda Aceh. Staf Angkatan Laut dan Udara juga bermarkas di tempat yang sama.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru