free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (19)

Redaksi – Rabu, 30 Ramadhan 1440 H / 5 Juni 2019 11:30 WIB

Sebelum menengok masa di mana Aceh sungguh-sungguh dilemahkan dalam segenap seginya oleh pemerintah pusat yang dikuasai kaum sekular yang berkomplot dengan kaum Islamophobia, maka ada baiknya kita menyimak apa yang dikatakan Bung Karno kepada Daud Beureueh saat berkunjung ke Aceh tahun 1948. Dalam dialog ini, Bung Karno selaku Presiden RI menyapa Daud Beureueh dengan sebutan “Kakak”:

Presiden Soekarno             : “Saya minta bantuan Kakak agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.”



Daud Beureueh                    : “Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan Presiden asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid.”

Presiden Soekarno             : “Kakak! Memang yang saya maksudkan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Teungku Cik Di Tiro dan lain-lain, yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid.”

Daud Beureueh                    : “Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan Syariat Islam di dalam daerahnya.”

Presiden Soekarno             : “Mengenai hal itu Kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam.”

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru