free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (19)

Redaksi – Rabu, 30 Ramadhan 1440 H / 5 Juni 2019 11:30 WIB

Pengkhianatan Soekarno terhadap Aceh merupakan awal dari rentetan pengkhianatan—jika tidak mau dikatakan sebagai konspirasi—yang dilakukan negara terhadap Aceh dan rakyatnya. Rezim Orde Baru Soeharto, Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati, semuanya melakukan hal yang sama terhadap Aceh. Setelah tragedi tsunami menghempas Aceh, 26 Desember 2004, barulah pemerintah pusat bersungguh-sungguh untuk menghentikan konflik dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Namun rakyat Aceh yang selama ratusan tahun menjadi korban sampai detik ini masih juga terabaikan.

Rakyat Aceh Menarik Kembali Janjinya, Bukan Berontak

Sejak melawan Portugis hingga VOC Belanda, yang ada di dalam dada rakyat Aceh adalah mempertahankan marwah, harga diri dan martabat, Aceh Darussalam sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Saat itu, kita harus akui dengan jujur, tidak ada dalam benak rakyat Aceh soal yang namanya membela Indonesia. Sudah ratusan tahun, berabad-abad Kerajaan Aceh Darussalam berdiri dengan tegak bahkan diakui oleh dunia Timur dan Barat sebagai “Negara” yang merdeka dan berdaulat. Kekhalifahan Turki Utsmani pun menganggap Aceh Darussalam sebagai bagiannya, protektorat.



Sedang istilah “Indonesia” sendiri baru saja lahir di abad ke-19. Jika diumpamakan dengan manusia, maka Aceh Darussalam adalah seorang manusia dewasa yang sudah kaya dengan asam-garam kehidupan, kuat, dan mandiri, sedangkan “Indonesia” masih berupa jabang bayi yang untuk makan sendiri saja belumlah mampu melakukannya. Banyak literatur sejarah juga lazim menyebut orang Aceh sebagai “Rakyat Aceh”, tapi tidak pernah menyebut hal yang sama untuk suku-suku lainnya di Nusantara. Tidak pernah sejarah menyebut orang Jawa sebagai rakyat Jawa, orang Kalimantan sebagai rakyat Kalimantan, dan sebagainya. Yang ada hanya rakyat Aceh. Karena Aceh sedari dulu memang sebuah bangsa yang sudah merdeka dan berdaulat. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

———————————

Artikel ini bekerjasama dengan eramuslim Digest: Resensi Buku : Jejak Berdarah Yahudi Sepanjang Sejarah , Eramuslim Digest

[1] M. Nur El Ibrahimy, ibid, hal. 68.

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru