free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (20)

Redaksi – Rabu, 30 Ramadhan 1440 H / 5 Juni 2019 14:00 WIB

Jadi, ketika malam pengantin, mempelai perempuan itu bukannya tidur dengan sang mempelai laki, tetapi dengan rajanya dulu untuk dicicipi, setelah itu baru giliran sang mempelai lelaki.

Hal ini sangat bertentangan dengan sosio-kultural para Sultan dan Sultanah di Kerajaan Aceh Darussalam. Dalam Islam, penguasa adalah pemegang amanah yang wajib mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hari akhir kelak kepada Allah SWT.

Kerajaan Aceh Darussalam saat diperintah oleh Sultan Iskandar Muda telah memiliki semacam Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Permusyawaratan Rakyat (DPR-MPR) yang hak dan kewajibannya telah di atur dalam ‘Konstitusi Negara” Qanun Meukota Alam. Ada pula Dewan Syuro yang berisikan sejumlah ulama berpengaruh yang bertugas menasehati penguasa dan memberi arahan-arahan diminta atau pun tidak.

Aceh juga telah memiliki penguasa-penguasa lokal yang bertanggungjawab kepada pemerintahan pusat. Jadi, seorang penguasa di Kerajaan Aceh Darussalam tidak bisa berbuat seenaknya, karena sikap dan tindak-tanduknya dibatasi oleh Qanun Meukuta Alam yang didasari oleh nilai-nilai Quraniyah.



dIMgIuHpTQAda satu episode sejarah Aceh yang mencatat betapa seorang Sultan di Aceh tidak bisa berbuat sekehendak hatinya. Adalah Sultan Iskandar Muda memiliki seorang putera mahkota bernama Meurah Pupok. Pada akhir masa pemerintahannya, Meurah Pupok yang merupakan putera mahkota satu-satunya ini tertangkap basah tengah berzina dengan isteri seorang perwira muda, pelatih angkatan perang Aceh.

Saat itu, perwira muda itu pulang dari tempat latihannya (Blang Peurade) menuju rumah. Setibanya di rumah, didapatinya sang isteri tercinta tengah berzina dengan Meurah Pupok. Betapa hancur hati sang perwira. Dengan amarah yang meluap, dicabutnya pedang yang terselip di pinggang dan dibunuhlah sang isteri yang sangat disayanginya itu. Sedang sang putera mahkota langsung melarikan diri.

Setelah menghabisi nyawa sang isteri, perwira muda itu bersama sang mertua pergi menghadap Sultan Iskandar Muda. Mendengat berita itu, Sultan segera memerintahkan Sri Raja Panglima Wazir (Menyeri Kehakiman) sesegera mungkin menyelidiki hal tersebut. Meurah Pupok akhirnya menghadap ayahandanya dan mengakui segala perbuatannya itu.

Dengan berat hati, Sultan Iskandar Muda menjatuhkan hukuman rajam hingga meninggal terhadap putera mahkota satu-satunya itu di depan umum, sesuai dengan hukum syariah.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru