free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (20)

Redaksi – Rabu, 30 Ramadhan 1440 H / 5 Juni 2019 14:00 WIB

Usia melakukan hukuman, Sultan Iskandar Muda jatuh sakit. Para pembantunya menanyakan kepada Sultan mengapa sampai hati dia menjatuhkan hukuman rajam seperti itu kepada anak lelaki satu-satunya itu.

Dengan lemah, Sultan Iskandar Muda menjawab, “Mate aneuk na jirat, mate adapt ho tamita,” (Mati anak ada makamnya, tapi kalau hukum yang mati kemana akan dicari?” Setelah lebih sebulan sakit, pada 27 Desember 1646 Sultan Iskandar Muda akhirnya berpulang ke Rahmatullah. Inilah bukti keadilan dalam Islam.[1]

Ketika Suharto berkuasa dengan mengkudeta Soekarno, pemerintah menyiapkan program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) di mana Aceh hendak dijadikan lumbung padi Indonesia. Lahan-lahan pertanian di Aceh pun dibuka dan ditata agar bisa menghasilkan padi dengan kualitas terbaik.

Tahun 1971 di Kabupaten Aceh Utara di temukan harta karun berlimpah berupa cadangan gas alam cair (LNG) yang sangat besar. Mobil Oil, sebuah perusahaan tambang Amerika Serikat, menemukan itu dan dalam enam tahun kemudian kompleks penyulingan KNG sudah beroperasi di dalam areal yang dinamakan Zona Industri Lhokseumauwe (ZIL). Di tempat yang sama, berabad lalu, di sinilah Kerajaan Islam pertama Samudera Pase berdiri. Kini oleh rezim Orde Baru diserahkan ke Amerika Serikat.

Sebelumnya, di Aceh Timur, dalam waktu 30 tahun sejak 1961, Asamera, suatu perusahaan minyak Kanada, telah menggali tak kurang dari 450 sumur minyak. Sumber gas alam yang ditemukan di sekitar sumur-sumur itu lebih kaya dari persediaan gas alam di Aceh Utara. Menjelang akhir dasawarsa 1980-an Aceh sudah menyumbang 30 persen dari seluruh ekspor minyak dan gas Indonesia. Produksi Pabrik Pupuk ASEAN hampir 90 persen diekspor, dan dari kompleks petrokimia diharapkan penjualan kimia aromatik sebesar US$200 juta setahun.

Pabrik Kertas Kraft Aceh juga sudah mulai memproduksi kertas karung semen sejak 1989. Dari penghematan impor pembungkus semen saja pemerintah sudah memperoleh laba US$89 juta setahun, sedang ekspor kertas semen menghasilkan US$43 juta. Pada 1983 Aceh menyumbang 11 persen dari seluruh ekspor Indonesia.[2] (Bersambung/Rizki Ridyasmara)



————————

Dapatkan App Eramuslim for Android KLIK DISINI.

[1] A. Hasjmy, ibid, hal. 44-45.

[2] Tim Kell, The Roots of Acehnese Rebellion 1989-1992, Publication No. 74, Cornell Modern Indonesia Project, Ithaca (1995).

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru