free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (21)

Redaksi – Kamis, 1 Syawwal 1440 H / 6 Juni 2019 11:30 WIB

Ted Robert Gurr dalam Why Men Rebel telah menulis bahwa orang akan berontak jika way of life-nya terancam oleh perkembangan baru. Orang Aceh telah kehilangan sumber alamnya, mata pencariannya, gaya hidupnya. Orang Aceh kehilangan suaminya, anak-anaknya, kehilangan harapannya, kehilangan segalanya . . . Lalu masih adakah orang yang sangat-sangat bebal yang masih saja bertanya, “Mengapa rakyat Aceh berontak?”

Rakyat Aceh jelas telah dijadikan tumbal bagi rezim Orde Baru. Telah diperkosa habis-habisan oleh Jakarta. Siapa pun yang punya hati nurani jelas akan mendukung sikap rakyat Aceh yang menarik kembali kesediaannya bergabung dengan Republik Indonesia jika hal seperti ini terus dibiarkan. Kesabaran itu ada batasnya!

Seperti yang telah diucapkan seorang petani di ladang cabai yang telah kering di daerah Padangtji, dekat Sigli, di tahun 2001. Kepada eramuslim.com, petani tua yang telah kehilangan anak isterinya akibat ditembak mati orang tak dikenal di hutan, mengeluh, “Kemerdekaan ini bagi kami terasa begitu pahit…”

Bagi siapa pun yang mengenal sejarah panjang Aceh Darussalam, maka kesediaan rakyat Aceh bergabung dengan Republik Indonesia sebenarnya merupakan sebuah pengorbanan tersendiri. Tanpa bergabung, rakyat Aceh berabad-abad lalu telah punya konstitusi, telah punya badan seperti MPR/DPR, telah makmur dan sejahtera hidupnya, telah maju ilmu pengetahuannya. Kesediaan rakyat Aceh bergabung dengan RI adalah suatu pengorbanan.

Konspirasi Kubu Sekular-Salib

Pemerintahan Pusat era Orde Lama dan khususnya Orde Baru nyata-nyata sangat Jawasentris. Semua kekayaan alam Nusantara, bukan hanya Aceh, disedot ke Pulau Jawa. Pembangunan fisik di Pulau Jawa berjalan dengan sangat cepat, sedang di daerah di luar Jawa, nyaris tidak ada pembangunan, malah yang ada kian hari kian banyak orang miskin. Kalau pun ada pembangunan, maka itu kebanyakan berpusat di wilayah-wilayah tertentu yang ada tambangnya dan sebagainya.

Contoh paling baik memang ada di Aceh dan Irian Barat. Di Zona Industri Lhokseumauwe maupun di kawasan pertambangan Freeport misalnya, listrik menerangi hampir setiap jengkal tanahnya. Fasilitas kesehatan dan toko serba ada juga didirikan. Jangan tanya soal hiburan, semuanya lengkap, dari yang semacam bioskop hingga “hiburan” yang lebih menjurus pada kemaksiatan.



Telah banyak literatur yang mengulas tentang masa-masa awal Orde Baru hingga di tahun 1980-an. Brad Sampson, seorang mahasiswa yang meraih PhD dari Northwestern University AS melakukan penelitian tentang Indonesia di masa-masa ini. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

————————–

Dapatkan App Eramuslim for Android KLIK DISINI.

[1] Hasil survey BPS tahun 1993.

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus