free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (22)

Redaksi – Jumat, 7 Juni 2019 07:15 WIB

Pergantian dari Soekarno ke Suharto bagi rakyat Aceh sama sekali tidak membawa kebaikan apa pun. Dayah-dayah dan meunasah-meunasah yang rusak, rumah penduduk yang tinggal menunggu kehancuran atau rubuh, semuanya tidak berubah. Pemerintah pusat sama sekali tidak melakukan perbaikan apa-apa terhadap kehidupan rakyat Aceh. Yang dilakukan rezim Suharto—dengan sokongan penuh dari Golkar, ABRI, dan CSIS—adalah mengeruk dan menyedot seluruh kekayaan alam Aceh untuk di bawa ke Jakarta.

Bila ada rakyat Aceh yang berani bersuara sedikit saja, maka dipastikan ia akan hilang untuk beberapa hari dan kemudian ketika ditemukan maka ia sudah menjadi mayat yang membusuk. Jakarta tidak pernah mengirim apa pun ke Aceh selain mengirim ribuan tentara siap perang.

Dalam periode awal Orde Baru ini, Suharto yang menganut kejawenisme menciptakan suatu pemerintahan diktatorial yang disokong oleh tiga kekuatan: Golkar sebagai mesin buldoser di bidang sosial politik, ABRI sebagai pengawalnya yang siap diperintahkan apa saja demi mengamankan kekuasaannya dengan dalih menjaga stabilitas negara, dan CSIS (Center of Study Information Strategy) sebagai lembaga pemikiran dan pengkajian pemerintahannya (lembaga think-thank).

Soeharto-Benny-Moerdani-jpeg.image_Orang-orang yang sangat anti Islam banyak diangkat menjadi pejabat negara, sebut saja Ali Moertopo yang juga kejawen (Kopkamtib), Leonardus Benny Moerdani yang sangat membenci Islam (Menhankam Pangab), lalu ada pula “Trio RMS” yang semuanya Kristen yang menguasai dan mengatur sistem perekonomian dan keuangan negara, mereka adalah Radius Prawiro (Katolik saudara Ibu Tien Suharto), Adrianus Mooy (Katolik), dan JB. Sumarlin (Katolik), dan sebagainya.

Di masa-masa merekalah rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim senantiasa dalam keadaan tertindas. Jilbab merupakan barang sangat langka di masa itu.

Salah seorang jenderal yang di masa kepemimpinan Leonardus Benny Murdany masih menjadi perwira menengah pernah bercerita kepada penulis, “Di Mabes ABRI tidak ada itu yang namanya sajadah tersampir di kursi atau di dinding. Benny sangat marah jika melihat ada sajadah di lingkungan markas besar.

Bahkan kurikulum latihan untuk para taruna dan juga prajurit dibuat sedemikian rupa sehingga mereka tidak bisa menunaikan sholat wajib. Inilah sebagian kecil kenyataan yang ada di zaman Benny.”[4]

Di mana-mana umat Islam diburu dan dibantai. Rakyat Aceh dibiarkan dalam kesengsaraan dan kemiskinan. Ini merupakan strategi pelemahan rakyat Aceh khususnya dan Muslim Indonesia pada umumnya, yang dilakukan negaranya sendiri terhadap rakyatnya.

Selama masa kekuasaan Orde Baru 32 tahun lamanya, rakyat Aceh selalu dalam keadaan ketakutan karena perang berkepanjangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) melawan ABRI yang dikirim oleh Jakarta. Berbagai peristiwa yang memilukan hati menimpa rakyat Aceh yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Ini terjadi puluhan tahun.

Sudah terlalu banyak literatur yang menggambarkan betapa diskriminasinya Rezim Orde Baru di masa-masa awal terhadap umat Islam. Di satu sisi, di dalam periode ini, kaum minoritas atas restu Suharto memegang banyak posisi kunci di negeri ini. Kita tidak akan banyak menyinggung hal ini. Arah politik Suharto baru berubah dengan mengakomodasi aspirasi umat Islam di tahun 1980-an. Saat itu dikenal sebagai periode “Ijo Royo-Royo” baik di kabinet pemerintahan, maupun di lingkungan ABRI, sehingga—walau ini tidak seluruhnya benar—ada istilah “ABRI Hijau” dengan “ABRI Merah”.

Perubahan arah politik Suharto ini tidak menyenangkan kubu minoritas yang dahulu sangat dimanjanya. Sejak itu, dengan segala kekuatan dana dan media yang dimiliki, kubu minoritas ini selalu menggoyang dan menggerogoti kinerja Rezim Suharto yang memang sudah bobrok sejak lama. Akibatnya Rezim Suharto pun tumbang dan digantikan oleh wakilnya, B. J. Habibie yang juga ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Dalam masa pemerintahan Habibie, terasa sekali penentangan dari kubu minoritas terhadap seluruh kinerjanya. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)

—————————-

Dapatkan App Eramuslim for Android KLIK DISINI.



[1] John Pilger: The New Rulers of the World, page.37

[2] Ibid.

[3] Ibid, page.39.

[4] Tokoh ini sekarang sudah tiada, perwira tinggi di Cilangkap ini bertemu penulis di tahun 2001 di Jakarta.

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru