free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (23, TAMAT)

Redaksi – Jumat, 7 Juni 2019 11:15 WIB

Ketika penulis mengunjungi Banda Aceh di pertengahan tahun 2001, penulis sempat bertemu dengan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Banda Aceh dan diperlihatkan foto-foto rakyat Aceh yang menjadi korban ABRI semasa DOM. Sulit rasanya memaparkan semua yang penulis lihat karena kekejian dan kebiadaban yang dilakukan terhadap rakyat Aceh sungguh-sungguh di luar logika seorang manusia, bahkan binatang pun rasanya tidak akan sanggup berbuat demikian.

Ada yang ditangkap di tengah jalan lalu disiksa agar mengaku sebagai GAM, setelah itu ditembak kepalanya dan mayatnya dimasukkan ke dalam tong besi. Tong besi yang ada mayatnya tersebut lalu dicor dengan adukan semen dan dibuang ke sungai.

Ada pula yang disiksa dan dibunuh di depan anak-anaknya yang masih kecil, lalu mayatnya diseret dan dibuang ke dalam selokan. Cara-cara terror yang “kreatif” seperti ini menunjukkan betapa rendahnya rasa pri kemanusiaan dan moral yang dimiliki sang pelaku. Belum lagi perempuan-perempuan Aceh yang diperkosa beramai-ramai lalu dibunuh atau dilepas di tengah jalan. Bagi yang tidak tahan, maka mereka menjadi gila. Banyak orang-orang gila atau stress di Banda Aceh dan sekitarnya karena menerima perlakuan yang tidak manusiawi dari aparat.

Dalam kunjungan tahun 2001 itu, selain mengelilingi Banda Aceh, penulis juga menyisir kota-kota di pesisir pantai timur Aceh hingga Bireun, lalu belok kanan merambah pegunungan hingga sampai di Takengon (Aceh Tengah) yang masuk dalam wilayah dataran tinggi Gayo.



Sepanjang perjalanan, sama sekali tidak ada kesan bahwa daerah ini adalah daerah kaya raya. Rumah-rumah penduduk sepanjang jalan banyak yang sudah mau rubuh. Ladang-ladang mengering ditinggal kabur pemiliknya karena ketakutan akan konflik yang berkepanjangan. Bahkan di Banda Aceh, yang merupakan Ibukota Provinsi, para pengemis berkeliaran di sana-sini, anak-anak jalanan nan kumal bermain di mana-mana, warganya banyak yang mengojek atau membuka warung seadanya. Mau cari mal atau supermarket? Itu hanya mimpi. Hotel yang paling bagus pun hanya Hotel Kuala Tripa yang di Jakarta hanya dianggap hotel kelas bawah.

Inilah potret daerah penyumbang APBN terbesar dari seluruh daerah di Indonesia. Seluruh kekayaan alam Aceh dirampok  Jakarta untuk menggemukkan para pejabatnya, sedang rakyat Aceh sendiri dibiarkan dalam kemelaratan, kepapaan, dan ketakutan yang amat mencekam.

Yang membuat saya bergidik, di Serambi Mekkah ini telah pula ada sejumlah pelacur yang berkeliaran di malam hari. Para perempuan muda Aceh pun terlihat tidak lagi konservatif dalam berbusana, tidak kalah dengan yang di Jakarta. Rambut memang ditutupi kerudung, tapi pakaian yang dikenakan sangat ketat. Pergaulan sesama mereka pun tidak ada bedanya dengan pergaulan anak Jakarta.

Sungguh, rezim Orde Baru sangat berhasil dalam melemahkan dan merusak identitas Muslim Aceh. Orde Baru sudah sedemikian gemilang menghancurkan karakter Islam yang berabad-abad lamanya tertanam dalam diri rakyat Aceh. Jika Belanda menyerang rakyat Aceh hanya dengan bedil dan meriam, maka Orde Baru memerangi rakyat Aceh selain dengan bedil dan meriam, juga dengan pengrusakkan budaya, pemikiran, akidah, dan sebagainya.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru