free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (23, TAMAT)

Redaksi – Jumat, 7 Juni 2019 11:15 WIB

Suharto, Golkar, petinggi TNI/Polri saat itu, semuanya harus bertanggungjawab.

Tahun demi tahun berjalan dengan teramat lambat di Aceh, tiap hari ada saja orang Aceh yang mati atau disiksa. Orang di luar Aceh hanya mendengar Aceh bila ada bentrokkan antara TNI/Polri dengan GAM, atau ada penemuan ladang ganja. Karakteristik Aceh yang sesungguhnya mulia dirusak sedemikian rupa hingga nama Aceh menjadi identik dengan gerombolan pengacau dan ladang ganja.

Inilah karya rezim Orde Baru. Kalau saja tidak terjadi bencana gempa besar yang disusul dengan hantaman gelombang tsunami pada Ahad pagi, 26 Desember 2004, maka bangsa Indonesia sudah melupakan bagaimana nasib rakyat Aceh saat itu.



Malam Sebelum Tsunami

Salah satu yang menyebabkan hancurnya tatanan sosial dan bathin rakyat Aceh adalah kelakuan aparat yang didatangkan dari luar Aceh, yang sama sekali tidak menghormati jatidiri wilayah Serambi Mekkah ini. Walau KTP mereka banyak yang mencantumkan Islam, namun sikap kesehariannya sungguh bertolak-belakang dengan Islam itu sendiri.

Malam sebelum terjadinya tsunami, sebuah episode di pantai Syiah Kuala, Banda Aceh, dekat dengan makam Syiah Kuala, ulama yang sangat disegani rakyat Aceh bisa dijadikan contoh yang baik untuk menggambarkan kelakuan aparat keamanan negara selama berada di Aceh.

Pada hari Sabtu, 25 Desember 2004, sebuah tenda besar dipasang di dekat pos polisi yang berdekatan lokasinya dengan komplek pemakaman Syiah Kuala. Kursi-kursi pun dideretkan. Pesta Natal dan menyambut tahun baru diselenggarakan oleh Brimob. Organ tunggal dipanggil, lengkap dengan penyanyinya. Hingga jauh malam, pesta berlangsung meriah.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru