free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (23, TAMAT)

Redaksi – Jumat, 7 Juni 2019 11:15 WIB

“Jika pada hari biasa yang berjaga di situ paling ada tujuh orang polisi, namun pada hari Sabtu, petugas yang ada di situ amat banyak,” ujar Abdul Syukur (bukan nama sebenarnya), warga sekitar makam yang selamat. Menurut Abdul Syukur yang diamini warga sekitar, para petugas kepolisian itu mabuk-mabukkan dan berjoget. Suara hingar-bingar ditingkahi suara tertawa genit perempuan nakal terdengar hingga ke rumah-rumah penduduk. Semua dilakukan tanpa mengindahkan kesakralan makam ulama besar Syiah Kuala yang berada tak jauh dari lokasi pesta.

tsunami-satelit-1Seorang guru ngaji (al-Walid) yang biasa bermalam di komplek makam merasa terketuk nuraninya untuk mengingatkan aparat kepolisian itu agar tidak melakukan kemaksiatan di dekat makam seorang ulama. Setelah mengucap Basmallah, orangtua berjubah putih itu menghampiri orang-orang yang tengah berpesta. Tutur katanya yang begitu sopan dan lembut tidak dihiraukan. Orangtua itu malah dihardik dengan kasar dan ditodong senjata api laras panjang.

Dengan hati hancur al-Walid berbalik menuju makam Syiah Kuala. Di depan makam, al-Walid berdoa sembari mengucurkan airmata. Hatinya hancur. Ia tidak punya daya upaya dan kekuatan untuk menghentikan pesta maksiat itu. Dengan penuh perasaan, orangtua itu bahkan sempat mengumandangkan adzan tiga kali di depan makam. Suaranya kalah keras dengan dentuman musik dangdut yang mengiringi pesta maksiat para aparat itu.



Setelah melantunkan adzan tiga kali, dengan hati hancur orangtua itu pergi meninggalkan makam. Al-Walid terus berjalan menjauhi makam dan hilang ditelan kegelapan malam. Pesta terus berlangsung tak kenal tempat dan waktu. Menurut beberapa warga sekitar makam, dalam pesta itu beberapa orang terlihat melepaskan pakaiannya.

Adzan Subuh yang bergema dari Masjid al-Waqib tak jauh dari makam, tak mampu menghentikan pesta maksiat yang masih meriah. Saat matahari terbit di ufuk timur, pesta masih terus berlangsung. Botol-botol minuman keras berserakan di atas pasir pantai.

Tak lama kemudian tanah berguncang hebat dalam hitungan beberapa menit. Gempa besar telah terjadi. Orang-orang yang berpesta keluar dari tenda. Ada yang menjerit, ada yang tertawa-tawa, ada pula yang masih asyik berjoget sendiri. Para penduduk sekitar juga berhamburan keluar rumah memenuhi jalan dan lapangan. (Tamat/Rizki Ridyasmara)

——————–

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru