free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (7)

Redaksi – Jumat, 31 Mei 2019 17:45 WIB

Amat mungkin, disebabkan ruang gerak perempuan-perempuan Aceh yang sangat luas, tidak berbeda dengan kaum lelakinya, maka hal ini turut mempengaruhi cara berpakaian mereka. Prof. Dr. HAMKA menulis,

“Di seluruh tanah air kita ini, hanya di Aceh pakaian asli perempuan memakai celana. Sebab mereka pun turut aktif dalam perang. Mereka menyediakan perbekalan makanan, membantu di garis belakang dan pergi ke medan perang mengobati yang luka.[1]

Hal itu pula yang menjadi sebab, mengapa sejarah Teuku Umar Johan Pahlawan tidak dapat dipisahkan dari sejarah isterinya Teuku Cut Nyak Dien yang bertahun-tahun setelah suaminya syahid diterjang peluru Belanda, isterinya itu masih meneruskan perjuangan, walau tinggal seorang diri. Cut Nyak Dien tetap bertahan di dalam gua di tengah belukar hutan yang amat lebat meneruskan perlawanan, walau dirinya sudah buta dan hanya ditemani sisa laskarnya, para perempuan Aceh, yang berjumlah sekitar 4-5 orang.

Seorang pengawalnya tidak dapat menahan kesedihan menyaksikan penderitaan yang dipikul Cut Nyak Dien yang sangat tegar dan tabah. Didorong oleh perasaan kasihan dan melihat kemungkinan perang sudah sulit dimenangkan karena kekuatan sudah tidak lagi seimbang, maka ia keluar dari hutan dan memberitahu serdadu Marsose Belanda tempat persembunyian komandannya itu. Pasukan elit Belanda itu segera menerobos hutan belukar berhari-hari dan akhirnya mereka menemukan sebuah gua terpencil yang di dalamnya terdapat Cut Nyak Dien yang sudah tua, matanya buta, dan badannya sangat ringkih karena kurang makan.



Tatkala opsir Belanda hendak memapah Cut Nyak Dien dengan memegang lengannya, Srikandi Aceh itu dengan tegas berkata, “Bek kamat ke, kapeh celaka!” (Jangan pegang tanganku, kafir celaka!”). Dengan tertatih dan berkali-kali tersandung dan jatuh, Cut Nyak Dien bersikeras berjalan sendiri tanpa dipegangi tangan si kafir keluar dari persembunyiannya.

(Catatan Penulis: Cut Nyak Dien merupakan seorang pejuang muslimah yang sangat taat pada Islam. Percayakah kita jika seorang Muslimah yang taat digambarkan dalam foto-foto sekarang ini sama sekali tidak menutup rambutnya yang merupakan aurat? Para Srikandi-Srikandi Aceh seluruhnya mengenakan jilbab!)

Keteguhan Cut Nyak Dien ini membuat kagum seorang HAMKA yang menulis: “Pikirkanlah dengan dalam! Betapa jauh perbedaan latar belakang wanita Aceh 358 tahun yang lalu itu dengan perjuangan wanita zaman sekarang. Mereka itu didorong oleh semangat jihad dan syahid karena ingin bersama menegakkan agama Allah dengan kaum laki-laki, jauh daripada arti yang dapat kita ambil dari gerakan emansipasi wanita atau Feminisme zaman modern sekarang ini.[2]

  1. MR. T. H. Moehammad Hasan, putera Aceh mantan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), dalam biografinya[3] mengutip pengakuan seorang perwira tentara kolonial Belanda yang bertugas saat perang kolonial di Aceh bernama H. C. Zentgraaf. Perwira Belanda itu menyatakan, “Orang Aceh, baik pria maupun wanita, pada umumnya telah berjuang dengan gigih sekali untuk sesuatu yang mereka pandang sebagai kepentingan nasional atau agama mereka. Di antara pejuang-pejuang itu terdapat banyak sekali pria dan wanita yang tidak kurang satrianya daripada bangsa lain: mereka itu tidak kalah gagahnya daripada tokoh-tokoh perang terkenal kita.”[4]

Rakyat Aceh sangat paham bahwa tiada hal yang patut dibanggakan di dunia ini selain menjadi seorang Muslim yang taat. Islam adalah harga diri yang tidak bisa ditukar dengan apa pun selama hayat dikandung badan. Ini tertanam dalam-dalam di setiap dada orang Aceh. Kebanggaan mereka akan Islam mengurat-akar dalam-dalam dan memiliki catatan historis yang sangat panjang dan membanggakan.

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru