free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (8)

Redaksi – Jumat, 31 Mei 2019 20:00 WIB

Salah satu kasus yang sempat tercatat adalah ketika VOC Belanda meminta Aceh Darussalam agar mau mendesak Perak agar sudi memberikan hak monopoli perniagaan timah di daerah itu kepada Belanda. VOC mengutus Vlamingh menghadap Ratu Safiatuddin dengan tugas membujuk sang ratu agar bersedia mendesak Perak menerima permintaan Belanda. Walau duta Belanda itu sudah mengerahkan segala kemampuannya membujuk dan merayu sang ratu, namun ternyata Ratu Safiatuddin tak bergeming  dan menolak permintaan Belanda.

Winstedt menulis, “Tahun 1645 dibuat perjanjian antara Belanda dan Aceh, tapi bertentangan dengan itu orang-orang Islam India menikmati perdagangan timah dengan Aceh dan Semenanjung Melayu. Sedangkan VOC tidak dapat bagian apa-apa, selain kata-kata muluk dan muka manis. …Jelas, Tajul Alam telah memainkan diplomasinya yang tajam.”[4]

Setelah Vlamingh gagal, Belanda tidak berhenti sampai di sini. Setelah dianggap kasus itu sudah dilupakan, maka VOC kembali mengirim utusannya bernama Truijtman kepada Ratu Safiatuddin. Kali ini Ratu Safiatuddin memainkan diplomasi yang sangat cantik. Ratu mengirim utusannya agar bersama-sama dengan Trujtman berangkat ke Perak guna meminta persetujuan Sultan Perak dalam hal monopoli perniagaan timah. Kepada Sultan Perak, Muzaffar Syah II, yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Ratu Safiatuddin, secara diam-diam Aceh mengabarkan bahwa Belanda memiliki itikad tidak baik. Sultan Perak pun mafhum dan turut serta dalam diplomasi lihai gaya Aceh.

Di permukaan Sultan Perak menyetujui permintaan itu dan kemudian dibawa kembali ke Aceh untuk ditandatangani secara resmi pada tanggal 15 Desember 1650. Benarkah Ratu Safiatuddin dan Sultan Perak Muzaffar Syah II sungguh-sungguh menerima permintaan Belanda? Ternyata tidak.

Sejarahwan Muhammad Said menulis, “…hubungan Aceh dengan Perak cukup baik, berhubung karena Sultan Perak Muzaffar Syah II adalah berkeluarga dengan almarhum Iskandar Sani, suami Sultanah Tajul Alam Safiatuddin. Muzaffar sebelum menjadi raja dikenal dengan nama Sultan Sulung Siak, bangsawan yang turut ditawan ketika Aceh menyerang Johor di tahun 1613. Di Aceh, Sulung dinikahkan dengan puteri Raja Muda Pahang, menantu Raja Ahmad (ayah juga bagi Iskandar Sani). Karena hubungan keluarga ini, dan karena bantuan Acehlah maka Raja Sulung mendapat kursi kesultanan di Perak. Tidaklah heran jika setelah Raja Sulung menjadi Sultan Perak, kedaulatan Aceh atas Perak tetap diakuinya. Dalam pada itu, walau perjanjian pemerintah dengan pemerintah (Aceh-Perak dengan VOC Belanda) sudah selesai ditandatangani, dan Sultan Muzaffar Syah sedia mematuhinya, tapi rakyat Perak yang juga seluruhnya beragama Islam, tidak mau menjual timahnya kepada Belanda. Perjanjian tersebut dianggap merugikan dan mengurangi kebebasan Perak untuk menentukan sendiri dengan siapa mereka berniaga…”[5](Bersambung/Rizki Ridyasmara)

—————————————–

[1] Wan Shamsuddin dan Arena Wati; Peta Kekuasaan Kerajaan Acheh di Sumatera; Sejarah Tanah Melayu Dan Sekitarnya; Pustaka Antara; Kuala Lumpur; 1969.



[2] Prof. Dr. HAMKA, ibid, hal.147.

[3] A. Hasjmy; ibid, hal.144.

[4] M. Said; Aceh Sepanjang Abad; hal.198.

[5] Ibid, hal. 200-201.

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2 3 4

loading...

Historia Terbaru