free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (9)

Redaksi – Sabtu, 26 Ramadhan 1440 H / 1 Juni 2019 04:30 WIB

4488911327_4dfc0c7703_bEramuslim.com – Belanda pusing tujuh keliling menghadapi ulah rakyat Perak yang tidak mau berdagang dengannya. Walau sudah ada perjanjian, Muslim Perak tetap saja melakukan perniagaan timah-timahnya dengan pedagang-pedagang Islam asal India, Cina, dan Arab. Juga dengan pedagang Eropa selain Belanda. Akhirnya Belanda menempuh jalan kekerasan dan paksaan. Rakyat Perak tak gentar dengan Belanda.

Maka tahun 1651 meletuslah perlawanan bersenjata terhadap VOC di Perak. Dengan dipimpin oleh tumenggung dan syahbandar, rakyat Perak menyerbu loji-loji VOC dan markas pertahanan Belanda. Banyak tentara Belanda menemui ajal. Beberapa tentara VOC yang berhasil melepaskan diri akhirnya kabur dan meninggalkan Perak menuju Malaka. Dengan sendirinya perjanjian monopoli perniagaan timah pun batal.

Belanda makin beringas. Di berbagai wilayah kerajaan Aceh Darussalam, Belanda mulai berani terang-terangan menunjukkan sifat tamaknya. Jalur-jalur perekonomian banyak yang diganggu, terutama di Selat Malaka. Melihat hal ini, Ratu Safiatuddin pun tidak tinggal diam. Persiapan perang besar-besaran dilakukan Aceh Darussalam guna memberi pelajaran kepada kafir Belanda.

Menyadari bahwa armada laut Aceh tidak sanggup lagi sendirian menghadapi armada VOC, maka dengan cerdik Ratu Safiatuddin mengontak Persatuan Dagang Inggris, saingan VOC Belanda, dan meminta bantuan persenjataan berupa meriam, senapan, dan mesiu. Ratu Safiatuddin mengerti benar bahwa walau Belanda dan Inggris sama-sama negeri imperialis namun keduanya sering terlibat dalam konflik perebutan wilayah jajahan. Sebab itu, oleh Ratu Safiatuddin, Inggris akan dibenturkan dengan Belanda.

Mendengar strategi Ratu Safiatuddin itu, Belanda kaget bukan kepalang. Agar tidak berperang dengan Inggris, Belanda cepat-cepat mengubah sikapnya dan menunjukkan keramahan kembali kepada Aceh Darussalam. Sebuah tim negosiator cepat-cepat menemui Ratu dan membujuk Ratu Safiah agar tidak mengontak Inggris. Ratu setuju namun dengan sejumlah syarat yang dengan sangat terpaksa akhirnya diterima oleh VOC, antara lain: VOC menghentikan blokade atas Perak, VOC tidak akan mendirikan benteng di Perak, dan VOC akan memberikan kepada Aceh Darussalam bantuan persenjataan seperti meriam, senapan, dan mesiu sesuai permintaan dari Aceh.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus