free hit counters
 

Sejarah Nanggroe Atjeh Darussalam (9)

Redaksi – Sabtu, 26 Ramadhan 1440 H / 1 Juni 2019 04:30 WIB

Dalam masa kekuasaan Zakiatuddin ini pula datang ke tanah Aceh utusan resmi dari Syarif dan Mufti Mekkah di bawah pimpinan Yusuf al Qudsi. Saat menerima utusan dari Mekkah, Ratu Zakiatuddin menerimanya dari balik hijab. Hijab tersebut sangat indah terbuat dari sutera dewangga dan bertatahkan sulaman emas dan batu permata.

Dari balik hijab, dengan bahasa Arab yang fasih, Ratu Zakiatudin menyambut tamunya dengan sangat baik. Sejarahwan A. Hasjmy mengutip naskah Muhammad Yunus Jamil[1] yang menceritakan secara panjang lebar pertemuan Ratu beserta segenap petinggi kerajaan dengan rombongan dari Mekkah.

“…Tahun 1681 rombongan Syarif Mekkah itu sampai di Banda Aceh Darussalam, di mana mereka diterima oleh Ratu dengan segala upacara kebesaran. Mereka sangat kagum menyaksikan Banda Aceh yang cantik dan permai; segala bangsa berdiam di sana, kebanyakan mereka kaum saudagar.

Ketika mendapat kesempatan menghadap Sultanah, keheranan mereka jadi bertambah, di mana mereka dapati tentara pengawal istana terdiri dari prajurit-prajurit perempuan yang semuanya mengendarai kuda. Pakaian dan hiasan kuda-kuda itu dari emas dan perak. Tingkahlaku pasukan kehormatan itu dan pakaian mereka cukup sopan, tidak ada yang menyalahi peraturan agama Islam.

Ketika mereka menghadap Sultanah, mereka dapati Sri Ratu dengan para pembantunya yang terdiri dari kaum perempuan duduk di balik tabir kain sutera dewangga yang berwarna kuning berumbai-rumbai dan berhiaskan emas permata. Ratu berbicara dalam bahasa Arab yang fasih dengan mempergunakan kata-kata yang diplomatis sehingga menimbulkan takjub yang amat sangat bagi para utusan. Dalam pergaulan di istana tidak ada satu pun yang mereka dapati yang di luar ketentuan ajaran Islam…”

Rombongan dari Mekkah itu tinggal di Aceh setahun lamanya. Ketika mereka kembali ke Mekkah, Ratu Zakiatuddin menghadiahkan mereka perhiasan emas permata. Pada 3 Oktober 1688, Ratu Zakiatuddin berpulang ke Rahmatullah. Ratu Kamalat Syah menggantikan Ratu Zakiatuddin.



Tahun 1695 tiba utusan Persatuan Dagang Inggris di Banda Aceh dan mengajukan permohonan agar Inggris diperbolehkan mendirikan kantor dagang di Aceh. Guna mengimbangi Belanda yang kian kuat, Ratu Kalamat Syah mengizinkan hal itu namun tetap mengutamakan kemakmuran rakyat Aceh, sehingga Inggris tidak mendapat laba yang banyak dari Aceh.

Di atas sudah disinggung bahwa negara-negara Eropa kolonialis selalu membawa tiga buah misi dalam ekspansinya ke negara-negara selatan yang mayoritas negeri Islam. Selain misi mencari kekayaan, juga misi untuk menyebarkan salib dan meninggikan agama Kristen (Gold, Glory, and Gospel). Demikian pula dengan VOC.

Misi Salib VOC Yahudi-Belanda

“Misi berarti penyiaran iman Katolik Roma,” demikian Jan Bank dalam Katholieken en de Indonesische Revolutie.[2] Dalam karya tulisnya yang cukup tebal, sejarahwan Belanda ini mengakui bahwa penyebaran agama Katholik terlihat pertama kali di Nusantara pada akhir abad ke-15 Masehi. Misi Katholik, demikian Jan Bank, merupakan konsekuensi dari ekspansi orang Eropa di Kepulauan Nusantara, termasuk ke Aceh dan Malaka. “Tetapi kadang-kadang justeru sebagai dalih untuk melakukan ekspansi itu,” tegas Bank yang berarti secara implisit mengakui bahwa negeri-negeri Kristen Eropa selalu membawa misi penyebaran salib dalam setiap aksi kolonialisme dan imperialismenya

← Halaman sebelumnya Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4

Historia Terbaru