free hit counters
 

Vaksin Darurat Masa Revolusi

Redaksi – Kamis, 29 Jumadil Awwal 1442 H / 14 Januari 2021 10:15 WIB

Eramuslim.com – Kisah dokter tentara memvaksin cacar penduduk di Banten Selatan dan Bogor di tengah revolusi kemerdekaan. Bahan vaksinnya dari kulit kerbau.

*

Prof. Dr. Satrio. Nama ini sohor sebagai salah satu jalan utama di Jakarta. Tak banyak orang tahu siapa sosok ini dan apa yang telah dilakukannya sehingga namanya diabadikan. Dia seorang dokter tentara yang berjasa dalam memberikan vaksin cacar kepada penduduk Banten Selatan dan Bogor pada masa revolusi kemerdekaan.



Cerita pemberian vaksin oleh dr. Satrio bermula pada Desember 1948. Kala itu, Belanda berupaya merebut sejumlah wilayah Banten seperti Serang, Pandeglang, dan Rangkasbitung dari Republik. Pejuang-pejuang Republik melawan upaya itu dengan perang gerilya.

Dr. Satrio ikut bertugas membantu pejuang gerilya Republik sesuai surat kawat dari Markas Besar Tentara. Dia tergabung dalam Brigade Tirtayasa dan beberapa kali mengurus pejuang-pejuang yang terluka atau gugur. Tapi penugasannya di wilayah Gunung Karang, Banten Selatan, menggerakkan dirinya turut membantu rakyat.

“Dalam perjalanan kembali ke daerah selatan, saya mendapat informasi dari penunjuk jalan bahwa di antara penduduk ada penyakit cacar,” kata dr. Satrio kepada Mona Lohanda dkk. dalam Perjuangan dan Pengabdian: Mosaik Kenangan Prof. Dr. Satrio 1916–1986.

Dr. Satrio mendatangi kampung tersebut dan melihat fisik para penduduknya. “Bisul-bisul bernanah kecil-kecil tersebar di kulit. Tidak saya ragukan memang ini adalah vario vera menurut istilah kedokteran Latin dan bukan cacar air,” tutur dr. Satrio.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3

Historia Terbaru