free hit counters
 

Wahabisme di Cina

Redaksi – Minggu, 4 Maret 2018 18:00 WIB

Eramuslim.com – GERAKAN pemurnian Islam (al-harakah al-tandhifiyah al-Islamiyah) dalam mazhab Hanbali di Arab Saudi dimotori Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792) sejak pertengahan abad ke-18. Gerakan Wahhabi atau Wahabisme ini menjalar ke Cina yang mayoritas muslimnya bermazhab Hanafi pada akhir abad ke-19 melalui seorang ulama dari suku Dongxiang keturunan Mongol bernama Ma Wanfu.

Kisah tentang Ma Wanfu dan lika-liku tablignya dijabarkan dengan cukup gamblang dalam buku Sejarah Singkat Sekte dan Sistem Tarekat Islam di Cina (Zhongguo Yisilan Jiaopai yu Menhuan Zhidu Shil e). Karya monumental Abu Yusuf Ma Tong berdasar riset lapangan yang dikerjakannya pada masa Revolusi Kebudayaan tersebut, sejak terbit pertama kali pada 1983, sampai sekarang masih menjadi rujukan utama akademisi Cina dan negara luar yang meneliti ihwal tiga sekte (jiaopai) Islam dan empat aliran tarekat (menhuan) sekte Sufi beserta cabang-cabangnya di Cina. Tulisan ini, tak pelak, juga banyak menukil magnum opus guru besar Lanzhou University itu.

Awal Mula

Ma Wanfu yang mempunyai nama Islami (jingming) Nuhai alias Nuh, berasal dari Desa Guoyuan, Kecamatan Dongxiang, Kabupaten Hezhou (sekarang Prefektur Otonomi Suku Hui Linxia), Provinsi Gansu. Dia lahir pada warsa ke-29 pemerintahan Kaisar Daoguang Dinasti Qing (1849). Wafat di usia 86 tahun. Ayahnya, Dawude (Dawud), dan kakeknya, Yibulaheimai (Ibrahim), adalah ustaz (ahong) yang menjadi pengikut Beizhuang, salah satu cabang tarekat Naqsyabandiyah aliran Khufiyya (hufuye) yang didirikan oleh Ma Baozhen (1772–1880).

Dengan latar belakang keluarga demikian, oleh orangtuanya, sejak kecil Ma Wanfu dibiasakan mengaji di masjid-masjid yang kental dengan tradisi tarekat Beizhuang. Ma Wanfu yang dikenal cerdas itu segera memeroleh ijazah (chuanyi) dari gurunya untuk menjadi ahong tarekat Beizhuang di umurnya yang masih 22 tahun. Dia lantas bertablig ke beragam tempat. Dari situ, Ma Wanfu yang bukan dari kalangan berada, mendapat sejumlah pundi yang kemudian dia kumpulkan untuk naik haji.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2 3 4 5

loading...

Historia Terbaru

blog comments powered by Disqus