free hit counters
 

Best Closing Policy at The End of The Duty

Redaksi – Sabtu, 22 Rabiul Awwal 1435 H / 25 Januari 2014 10:23 WIB

estafetBelajar dari Kebijakan Khalifah Sulaiman di Akhir Masa Pemerintahannya

 Indira S. Rahmawaty., S.IP., M.Ag

(Pembina Lembaga Studi Politik Islam UIN SGD Bandung)

Hiruk pikuk jelang Pemilu sudah sangat terasa. Partai-partai politik sibuk melakukan berbagai manuver di tengah bencana banjir yang melanda negeri ini. Tahun 2014 memang tahun politik, tapi bukan sisi itu yang akan dilihat, tapi dari sisi Presiden hari ini yang tak akan lagi menyandang posisi sebagai orang nomor satu di negeri ini. Ya, SBY tak mungkin lagi jadi Presiden karena memang aturan main negeri ini menetapkan jatahnya hanya 2 kali masa pemerintahan saja yaitu 2×5 tahun alias 10 tahun. SBY telah menjadi Presiden di periode 2004-2009 kemudian 2009-2014 dan tak mungkin jadi Presiden lagi untuk periode 2014-2019.

Saya yakin, SBY tahu betul tentang hal ini,  haqqul yakin. Tapi mungkin yang belum “ketahuan” adalah bagaimana SBY akan menutup pemerintahannya, apakah dengan happy ending atau sad ending? dengan mengambil langkah yang akan meninggalkan kesan positif atau kesan negatif? Saat ini, SBY masih punya kesempatan untuk memillih, bahkan memilih sesuatu yang ekstrem yaitu membalikkan sejarah pemerintahan -jika SBY mau-.  Meskipun langkah-langkah yang diambil SBY saat ini memang malah menunjukkan kepesimisan sejarah pemerintahan akan berubah. Bagaimana tidak? Perayaan natal bersama, kenaikan harga elpiji, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Kebijakan minuman beralkohol, dan lain-lain: meruntuhkan harapan itu!.  Tapi saya tetap ingin menyampaikan apa yang terlintas  dalam benak saya, sebuah kisah yang terjadi di masa Kekhilafahan Islam, tepatnya di masa khilafah Umayyah.  Kisahnya memang dengan setting yang secara mendasar berbeda, saat itu system pemerintahannya adalah system pemerintahan Islam hanya saja para aktor pemerintahannya tak sepenuhnya berpegang teguh pada hukum Islam. Sedangkan saat ini, system pemerintahannya bukanlah berazaskan Islam begitu juga para aktor pemerintahannya tidak menjadikan Islam sebagai kebijakan politiknya. Tapi mari kita mengambil pelajaran dari Kisah ini.  Semoga menjadi nasihat untuk semuanya, termasuk SBY.

Setting politik peristiwa ini terjadi di masa akhir pemerintahan Khalifah Sulaiman. Masa pemerintahannya memang dirasakan belum menciptakan keadilan untuk masyarakat saat itu. Namun, beruntungnya Khalifah Sulaiman, ia memiliki seorang penasihat yang menyelamatkan dirinya. Penasihat itu adalah seorang ‘alim yang bersih nan terpuji, tokoh tabi’in terkemuka di masanya bernama Raja’ bin Haiwah. Raja’ adalah penasihat para Khalifah Bani Umayyah yang tetap mempertahankan kebenaran dan tidak menjual pendiriannya meskipun bergaul dengan orang-orang  di ring 1 pemerintahan.

Saya ambil kisah ini dari buku Khalid Muh Khalid, “Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah”.  Seperti yang disinggung di paragraf sebelumnya, keadilan yang belum dirasakan masyarakat di masa Bani Umayyah menjadi salahsatu masalah besar dalam pemerintahannya. Inilah yang meresahkan Raja’. Oleh sebab itulah ada dua kata yang selalu menjadi buah bibir yang ia sampaikan kepada Khallifah Sulaiman: “Keadilan dan Kasih sayang”

Keadilan dan kasih sayang memang menjadi 2 kata kunci dari keberhasilan pemerintahan dan pemimpinnya. Subhanalloh, inilah yang sebagaimana  ada dalam hadits Rasulullah SAW:

عَنْ عِيَاضِ بن حِمار رَضِيَ اللهُ عَنْهْ قالَ : سمِعْت رَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقولُ :

أَهْلُ الجَنَّةِ ثَلاثَةٌ : ذُو سُلْطانٍ مُقْسِطٌ مُوَفَّقٌ، ورَجُلٌ رَحِيمٌ رَقيقٌ القَلْبِ لِكُلِّ ذِى قُرْبَى وَمُسْلِمٍ، وعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيالٍ .

رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari ‘Iyadh Ibn Himar ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

Ahli surga ada tiga macam, yaitu orang yang mempunyai kekuasaan pemerintahan yang berlaku adil dan dikurniai taufik oleh Allah, juga seorang yang memiliki sifat penyayang dan lembut hati kepada keluarga dekatnya dan setiap muslim, serta seorang yang menahan diri dari meminta-minta dan berusaha untuk tidak meminta-minta, sedangkan ia mempunyai keluarga banyak (dan dalam keadaan miskin).” (HR. Muslim) 

خِيَارُ َأَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ

Sebaik-baik pemimpinmu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pula mencintai kamu, mereka yang mendoakanmu dan kamu doakan mereka. Sedangkan seburuk-buruk pemimpinmu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun membencimu, yang kamu laknat dan mereka melaknatmu pula” (HR Imam Muslim). 

Suatu hari, khalifah Sulaiman yang memang kondisi kesehatannya menurun, kembali diserang penyakit. Sebelumnya ia telah menetapkan pengangkatan puteranya Aiyub sebagai khalifah. Akan tetapi, Aiyub, sebagaimana yang diutarakan Ibnu Abdil Hakam, meninggal dalam usia muda, sehingga kosonglah jabatan khalifah saat itu.  Khalifah Sulaiman merasa bahwa tiada lagi harapan untuk sembuh dan masalah penggantinya betul-betul menjadi beban pikirannya karena anak-anaknya yang lain masih kecil-kecil.

Khalifah Sulaimanpun bermusyawarah dengan Raja’ untuk mencari jalam keluar. Dan ini pandangan Raja’:

“Salahsatu yang dapat memelihara anda di alam kubur dan menolong anda di akhirat nanti adalah dengan mengangkat seorang yang shaleh sebagai Khalifah bagi kaum muslimin”

Lalu siapakah yang memenuhi syarat itu? Sulaiman bertanya. Dan Raja’ menjawab singkat tapi pasti: “Umar bin Abdul Aziz”.

Raja’ yang jawabannya pasti memang memiliki dasar yang kuat. Jika kita telusuri perikehidupan Umar bin Abdul Aziz maka siapapun akan menaruh kepercayaan besar padanya dan mencintainya karena sifat juga sikapnya yang terpuji dan mengagumkan. Dan salahsatu sifatnya yang terpuji dan mengagumkan adalah rasa takutnya yang sangat besar kepada Alloh SWT, yang membuatnya senantiasa menjaga hukum-hukum Alloh dilaksanakan dengan baik.  “Umar bin Abdul Aziz selalu ketakutan, seakan-akan neraka itu hanya diciptakan untuk dirinya saja!” itulah gambaran dari Ali bin Zaid

Sulaimanpun berketetapan hati akan menjadikan Umar bin Abdul Aziz. Di tengah ambisi saudara-saudaranya yang ingin menjadi Khalifah, Sulaiman menulis wasiat politik sebagai berikut:

“Bismillahirrahmanirrahiim,

Wasiat ini dari seorang hamba Alloh, Amirul Mukminin Sullaiman bin Abdul Malik kepada Umar bin Abdul Aziz. Saya mewasiatkan kekhalifahan sesudah saya kepada anda. Dan sesudahnya kepada Yazid bin Abdul Malik. Dengarkanlah semua perkataannya dan taatilah semua perintahnya serta bertakwalah kepada Allah. Janganlah kalian berselisih, karena perselisihan itu ajan mengakibatkan kalian lemah”

Para pejabat Negarapun diberitahu tentang masalah ini, bahwa mereka diperintahkan untuk memberikan bai’at*  kepada siapapun yang ditetapkan Sulaiman sebagai Khalifah penggantinya, tanpa diberitahukan siapa orangnya!

Apakah Umar bin Abdul Aziz diberitahu? Tidak! Dia hanya diberitahu saat menjenguk Sulaiman bahwa dia akan memikul amanah besar.

Hari bersejarah itupun datang, Khalifah Sulaiman meninggal dan proses pembaiatan Khalifah baru dimulai dari keluarga kerajaan yaitu Umar bin Abdul Aziz. Namun apa yang dilakukan Umar? Begitu Umar sadar dari peristiwa itu, tubuhnya lunglai bagaikan burung pipit kedinginan. Keesokan harinya Umar berpidato di mesjid yang telah sesak dengan utusan dari berbagai negeri, pidato pengunduran dirinya!

“…. Amma Ba’du. Sungguh aku telah menerima cobaan yang sangat besar dengan pengangkatan ini tanpa aku sendiri mengetahuinya, dan juga tanpa musyawarah dengan kaum muslimin. Oleh sebab itu, sekarang aku batalkan semua bai’at yang telah diberikan kepadaku… Pilihlah sendiri pemimpin yang kalian kehendaki!”

Menurut dugaan Umar, tindakannya akan membuat masyarakat menyetujui pengunduran dirinya. Namun belum lagi ia selesai mengatakan: “Pilihlah sendiri pemimpin yang kalian kehendaki!”. Suasana di mesjid menjadi gempar dan hiruk pikuk dengan suara-suara menyerukan:

“Tidak! Andalah yang kami pilih wahai Amirul Mukminin!”

Umatpun berebutan membaiat** Umar. Sementara peristiwa itu berlangsung, kedengaran bunyi tangis terisak-isak, yang tiada lain tangis dari Umar bin Abdul Aziz.

Dan sebagaimana kita ketahui, di masa pemerintahannya, Umar bin Abdul Aziz telah menorehkan tinta emas, beliau melakukan perubahan-perubahan radikal dengan memecat para pejabat bermasalah di posisi strategis dengan orang-orang yang amanah, ketat dalam masalah keuangan Negara, membersihkan pemerintahan dari korupsi, menghilangkan semua pajak tidak sah dan memberatkan, memberikan pada rakyat harta mereka dan memenuhi berbagai kebutuhannya dan kebijakan-kebijakan lainnya yang membuat tubuhnya menjadi kurus, rambutnya memutih sebelum waktunya dan raut wajahnya memucat.  Hal lain yang fantastis, Umar melakukan hal itu dengan cepat,  karena masa pemerintahannyapun hanya 29 bulan, 2 tahun 5 bulan saja!

Siapakah yang membuat Umar menjadi pemimpin? Tidak lain kebijakan terakhir Khalifah Sulaiman melalui wasiatnya. Best closing policy, sebuah kebijakan penutup terbaik yang bukan hanya menyelamatkan dirinya tapi menyelamatkan Negara dan khususnya rakyat saat itu!  Dari pemaparan ini bisa kita ambil beberapa point kesimpulan:

  1. Kebijakan terbaik pemimpin adalah menyiapkan pemimpin pengganti yang terbaik. Pemimpin yang terbaik adalah yang sholeh, yang menjadikan rasa takut kepada Alloh sebagai bekal utamanya ditambah dengan ilmu dan pengalaman yang terbukti.
  2. Kebijakan hanya mengganti pemimpin dilakukan pada saat system pemerintahan sudah berdasar Islam yaitu sistem kekhilafahan. Pemimpin yang baik akan memperbaiki kecacatan penerapan hukum Islam sehingga penerapannya menjadi benar dan utuh.
  3. Kebijakan untuk saat ini adalah mengganti system pemerintahan dan pemimpinnya. Sistem pemerintahan saat ini memang bukan berdasarkan Islam sehingga ada masalah mendasar yang akan mempengaruhi keseluruhan bangunan dan mekanisme berjalannya kebijakan. Pergantian pemimpin saja tidak cukup untuk memperbaiki keadaan, karena panggung dan skenarionya tetap sama hanya aktornya saja yang baru.
  4. Diperlukan tokoh seperti Raja’ bin Haiwah yang memiliki ketaqwaan, ketinggian ilmu, keberpegangteguhan pada kebenaran dan keberanian untuk menyampaikannya pada penguasa.
  5. Diperlukan kualitas pemimpin sekaliber Umar bin Abdul Aziz RA. Inilah yang harus “ditemukan” dan diakui kepemimpinannya oleh masyarakat.

Terakhir,  diperlukan pemimpin seperti Khalifah Sulaiman. Nah, para pemimpin, bersediakah anda mengikuti jejak Khalifah Sulaiman? Kebijakan yang akan menyelamatkan diri, Negara dan umat ini? Memilih orang terbaik yang menjadikan rasa takut kepada Alloh sebagai ketakutan terbesarnya? Dan mengganti sistem kufur kapitalis-sekuler ini dengan sistem Islam di bawah naungan Khilafah?

Wa ‘ala LLOHI fal yatawakkilmu’miniin

Bandung, 24 Januari 2014

 



Catatan:

* Bai’at in’iqad

** Bai’at tha’at

Bai’at, secara bahasa berarti transaksi, kontrak atau janji setia. Dalam kajian politik Islam, term bai’at menunjuk pada metode baku dalam pemilihan dan pengangkatan seorang Khalifah yang dilakukan oleh kaum muslimin kepada seseorang yang memenuhi syarat menjadi Khalifah untuk ditaati dengan sukarela selama Khalifah tersebut melaksanakan kebijakan sesuai ketentuan Al-Qur’an dan Assunnah. Bai’at ini ada 2 macam yaitu bai’at in ‘iqad  dan bai’at tha’at. Bai’at in’iqad  adalah bai’at yang diberikan para tokoh ummat (ahl halli wal aqdi/ ahl syuro)  kepada pemimpin terpilih sedangkan bai’at tha’at diberikan oleh rakyat keseluruhan atau wakil rakyat dari seluruh penjuru negeri Islam (Dar Islam).  Sepanjang sejarah kekhhilafahan mulai dari Khalifah Abu Bakar RA sampai khallifah terakhir, metode bai’at ini terus dilaksanakan.

Opini Terbaru