free hit counters
 

Boikot Produk Israel? Seorang Mahasiswa MIT Membuat Boycott Toolkit

Saad Saefullah – Rabu, 20 Jumadil Awwal 1431 H / 5 Mei 2010 06:04 WIB

Seorang mahasiswa pascasarjana Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah memperkenalkan platform internet yang baru yang bertujuan membantu para aktivis dalam kampanye memboikot produk-produk yang dibuat di permukiman Israel.

Situs web tersebut, Boycott Toolkit, adalah sumber di mana para pengguna dapat membuat daftar produk dan perusahaan Israel yang akan diboikot. Sekarang ini, situs ini sudah memuat daftar bir, produk makanan, dan kosmetik yang dibuat di pemukiman Israel di Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan. Situs ini juga memuat lokasi toko yang menjual setiap produk.

Isi situs ini sebenarnya tidak terbatas untuk boikot Israel, tapi para aktivis juga dapat menggunakan situs ini untuk sebuah kampanye positif, misalnya mendesak konsumen untuk membeli produk buatan Palestina.



Situs ini dikembangkan sebagai proyek oleh Josh Levinger, yang berafiliasi dengan Center for Future Civic Media, bagian dari MIT Media Lab. Levinger yang telah mengunjungi Israel dan wilayah-wilayah pendudukan beberapa kali. Ia menghabiskan musim panas tahun lalu di Tepi Barat, dan melakukan pertemuan dengan aktivis Palestina dan Israel dan para akademisinya.

"Ada dua kelas pengguna dasar," kata Levinger kepada Palestine Note, "pembaca dan kontributor. Saya mengharapkan ‘kontributor yang banyak’ dalam menyediakan konten, dan saya butuh orang-orang dengan antusiasme seperti itu."

Levinger mengatakan bahwa untuk kelompok pertama, proyek ini berkenaan dengan "platform bagi konsumen untuk berbagi informasi tentang politik tersembunyi dalam produk yang mereka beli. Pengguna dapat mempelajari mengapa sebuah produk spesifik menjadi target boikot."

Untuk kelompok kedua, kontributor yang akan memberikan informasi terhadap proyek itu, maka Boycott Toolkit "menyediakan alat untuk mengatur tindakan kolektif ekonomi, baik negatif dan positif, untuk membuat perbedaan dalam komunitas mereka." (sa/pn)

Berita Palestina Terbaru