free hit counters
 

Mau Jadi Imam? Bersiaplah di Interogasi Shin Bet

Al Furqan – Rabu, 20 Jumadil Awwal 1431 H / 5 Mei 2010 12:21 WIB

Salah satu masjid di kota JaffaWawancara ala fit and proper test untuk menduduki posisi imam di masjid-masjid yang ada di tanah pendudukan Palestina yang sekarang menjadi negara Israel, ternyata bukan dilakukan oleh ulama senior melainkan dilakukan oleh Shin Bet, polisi rahasia Israel, hal terungkap dari laporan dari pengadilan ketenaga kerjaan.

Syaikh Ahmad Abu Ajwa (36 tahun), saat ini harus berjuang setelah Shin Bet menolak untuk menyetujui pengangkatannya sebagai imam masjid, di bawah bayang-bayang kasus adanya pemantauan secara rahasia yang dilakukan oleh Israel terhadap para pemuka agama Islam di negara itu.

Pada sidang bulan lalu, seorang pejabat senior pemerintah mengakui bahwa 60 inspektur Shin Bet telah melakukan penyamaran dan dipekerjakan secara efektif sebagai mata-mata untuk mengumpulkan informasi tentang ulama-ulama Islam Palestina, termasuk laporan bagaimana opini mereka tentang politik dan apa saja yang mereka sampaikan dalam khotbah dan mencari tahu informasi mendetail tentang kehidupan pribadi mereka.

Syaikh Abu Ajwa membawa kasusnya ke pengadilan setelah Shin Bet menolaknya tiga tahun yang lalu untuk menjadi imam sebuah masjid di wilayah Jaffa, sebelah Tel Aviv, meskipun dirinya sebagai calon tunggal. Dia diberitahu setelah seorang aparat keamanan Israel menyatakan bahwa pandangannya dikategorikan "ekstremis" dan terlalu kritis terhadap Israel, meskipun posisi imam bukanlah posisi yang didefinisikan sebagai posisi yang berhubungan dengan keamanan.

"Dalam salah satu wawancara dengan Shin Bet, mereka memberitahu saya bahwa mereka telah mengumpulkan informasi tentang saya sejak saya berusia 15 tahun," kata Syaikh Abu Ajwa.

"Saya adalah imam pertama yang menantang peran Shin Bet dalam persoalan ini. Sangat penting untuk memenangkan keputusan preseden-pengaturan dari pengadilan untuk menghentikan tindakan mereka tersebut. "

Michael Sfard, seorang pengacara HAM yang mewakili Syaikh Abu Ajwa mengatakan bahwa sejauh yang ia ketahui tidak ada pemeriksaan ataupun wawancara serupa bagi para yahudi yang akan diperkerjakan dan akan menduduki posisi sebagai rabbi oleh Shin Bet.

"Ini semacam pengawasan yang berkaitan dengan posisi non-keamanan seperti imam yang mirip pada era polisi Stasi di Jerman Timur atau periode McCarthy di Amerika Serikat," katanya.

Independensi tradisional otoritas Islam setempat telah dihapus sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, ketika pemerintah Israel menyita hampir semua harta Wakaf – kekayaan alam tanah dan properti yang digunakan untuk kepentingan umat Islam Palestina – menghapus sumber pendapatan utama untuk para ulama , pengadilan Islam dan pelayanan sosial.

Menurut para ahli, sebanyak seperlima dari tanah Palestina yang dilestarikan adalah milik badan Wakaf sebelum tahun 1948. Israel menjual sebagian besar aset-aset rakyat Palestina ke organisasi-organisasi Zionis seperti Jewish National Fund atau dijual ke pengembang.

Tanggung jawab terhadap ratusan masjid, makam dan tempat-tempat suci lainnya, sementara itu, telah diserahkan baik ke pelayanan urusan agama Islam atau kepada dewan penyantun yang diangkat oleh pemerintah Israel.

Saat ini, sebagian besar imam dan semua hakim Islam harus tunduk pada sebuah wawancara dan izin dari pihak keamanan sebelum mereka mendapat gaji resmi dari negara.

Syaikh Abu Ajwa berkata: "Di Jaffa, pemerintah menunjuk banyak ulama karena mereka telah membuktikan kesetiaan mereka, meskipun tidak untuk muslim lainnya. "Mereka menjual properti kami – tetapi Anda tidak bisa menjual apa yang menjadi milik Allah. "



Jaffa, yang pernah menjadi ibukota bisnis Palestina, hari ini memiliki populasi hampir 50.000 penduduk, yang dua pertiganya adalah Yahudi dan sisanya Islam.

Syaikh telah berkhotbah di masjid pinggir laut Jabalya, salah satu masjid dari enam masjid yang ada di kota itu, sejak ia berusia 19 tahun, aktivitasnya tersebut membuatnya menjadi orang termuda yang melayani sebagai imam dalam sejarah Israel. Dia memenuhi syarat sebagai seorang imam dari sebuah perguruan tinggi Islam di kota Palestina Israel Umm Al-Fahm pada tahun 1998.

Masyarakat setempat secara umum mendukung dirinya untuk menduduki posisi sebagai imam baru ketika pendahulunya pensiun tiga tahun lalu, namun ia tidak dapat secara resmi diakui, dan tidak memenuhi syarat untuk mendapat gaji, tanpa persetujuan kementerian dalam negeri Israel.

Penilaian Shin Bet, yang disampaikan kepada pengadilan, menyatakan bahwa penunjukan Syaikh Abu Ajwa dapat membahayakan keamanan dan perdamaian di Jaffa. Selain itu, lembaga tersebut mengatakan kepada harian Haaretz bahwa syaikh telah lama terlibat dalam aktivitas yang bermusuhan, yang terwujud dalam hasutan terhadap negara dan warga Yahudi." (fq/mna)

Berita Palestina Terbaru