free hit counters
 

Milad 20 Th HAMAS, Mengenal Lebih Dekat Abu Ubaidah, Jubir Izzuddin Al-Qassam (Tamat)

Rizki Ridyasmara – Kamis, 9 Zulhijjah 1428 H / 20 Desember 2007 11:24 WIB

Menurut Abu Ubaidah, “Sebenarnya yang kami lakukan selama ini, sebagian besarnya adalah berdasarkan aksi pengamanan. Karenanya, berbagai sarana dan strategi kami akan tetap tidak diketahui. Tidak mungkin kami mengumumkan sarana yang kami miliki secara terang terangan. Kami hanya bisa mengatakan ada banyak sarana perang yang belum pernah kami gunakan sama sekali sebelum ini. "

"Kami juga mempunyai taktik strategi yang akan dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat. Israel tahu benar tentang kemampuan kami tersebut. Meski mereka terus menerus melakukan serangan, namun mereka tahu bahwa ada taktik dan strategi yang belum dilakukan oleh kami. Brigade Al-Qassam masih memiliki banyak strategi dan sarana yang akan digunakan di waktu yang tepat untuk mengejutkan Israel. ”

“Allah swt mengkaruniai kami barisan pejuang ahli yang mampu mengembangkan sarana perang untuk mengusir Israel. Setiap hari mereka menghasilkan produk perkembangan baru yang mereka lakukan dengan sarana sederhana dari tangan-tangan mereka. Mereka setiap hari mengembangkan kekuatan yang kami punya untuk menghadapi Israel. Ini merupakan salah satu keberhasilan perlawanan Palestina. "

"Itulah yang menyebabkan Israel harus berpikir ulang untuk melakukan serangan darat dan laut terhadap Ghaza karena mereka tahu ada kemampuan militer pejuang kami yang mampu menangkis bahkan mentargetkan pasukan Israel, tanpa diduga sebelumnya. “



Kami Terdidik dengan Al-Qu`ran

Bagaimana cara Al-Qassam mendidik kadernya, dijelaskan oleh Abu Ubaidah. “Kader Al-Qassam adalah bagian dari rakyat Palestina dan kader Hamas yang melakukan secara rutin melakukan pembinaan diri sebagaimana kader kader gerakan yang lain. Hanya saja mereka melakukannya sesuai dengan kondisi yang mereka hadapi. "

"Setiap kami terdidik dengan Al-Qur’an, setiap kami terlibat dalam kamp-kamp pelatihan, patroli dan penjagaan perbatasan. Itu adalah kesempatan paling indah bagi kami karena kami menginginkan mati syahid. Saudara-saudara kami yang tidak terlibat dalam aktifitas perlawanan, banyak yang meminta untuk bisa bergabung dalam sayap militer Al-Qassam. Hampir semua pemuda Palestina berharap mereka menjadi bagian dari perlawanan ini agar menjadi duri yang tajam bagi penjajah Israel yang zalim. “

“Para pejuang yang syahid semuanya melekat dalam hati saya terutama Syaikh Ahmad Yasin dan Rantisi. Mau tidak mau gugurnya mereka memberi pengaruh kehilangan pada aksi perlawanan. Tapi kami yakin aksi kami harus terus berjalan. Akan ada generasi baru menggantikan generasi sebelumnya. Sebagaimana saat Rasulullah saw wafat, muncul pula banyak tokoh lain yang meneruskan perjuangannya. Kami insya Allah terus menerus melakukan regenerasi dan revitalisasi bagi perjuangan ini. ” (TAMAT/M. Lili Nur Aulia, disarikan dari wawancara media Aljazeera, Ikhwanonline, Palestine Information Center, Alqassam)

Silaturrahim Terbaru