free hit counters
 

Puasa di Negeri Sakura (5): ”Kesulitan Melahirkan Militansi”

Al Furqan – Senin, 7 Ramadhan 1432 H / 8 Agustus 2011 16:09 WIB

Jum`at pertama di bulan ramadhan 1432H sedikit berbeda dari beberapa hari sebelumnya. Hari ini mulai terasa panas, terlebih mendekati jam 12 saat masuk waktu sholat jum`at. Saya dan anak-anak saya bergegas menuju masjid As-Salam Okachimaci. Masjid ini relative paling dekat dari rumah kami, meski begitu kami tetap harus naik kereta sebanyak 2 kali. Untung kereta hari ini tidak terlalu penuh, sehingga anak-anak saya bisa duduk sampai pergantian stasiun.

Konon, menurut orang-orang yang sudah lama tinggal di Tokyo, masjid di Tokyo saat ini sudah mulai berkembang dari sisi jumlah dibanding beberapa puluh tahun lalu. Para pendatang dari Pakistan, India, Srilanka, maupun timur tengah adalah muslim yang semangat dalam membangun eksistensi ke Islaman mereka dengan mendirikan masjid-masjid. Pada umumnya mereka datang ke Jepang ini bukan sekedar untuk “transit”, seperti kebanyakan orang Indonesia yang hanya datang untuk kuliah, training, atau kerja dengan target waktu tertentu untuk kembali.

Orang-orang dari Asia Selatan pada umumnya datang untuk mengadu nasib di Jepang, mereka berniat menetap, dan pada umumnya mereka membangun bisnis. Itulah sebabnya mereka semangat sekali membangun masjid, selain sebagai sarana beribadah dan da`wah, mesjid-mesjid ini juga menjadi sarana bagi mereka untuk berkumpul dan bersilaturrahmi.

Meski jumlah masjid relative lebih banyak di Tokyo saat ini, namun tetap saja masjid bukan suatu hal yang mudah diakses sebagaimana di Indonesia yang dapat kita jumpai disetiap komplek perumahan. Mungkin kesulitan inilah yang melahirkan semangat dan “militansi” untuk bisa datang ke masjid. Meski jumat kali ini terasa panas sekali, namun tidak mengurangi semangat dan militansi muslim yang tengah berpuasa untuk datang ke masjid Assalam Okachimaci ini. Diantara mereka ada yang harus naik kereta selama 30 menit, bahkan ada yang lebih dari 1 jam untuk bisa mencapai mesjid. Seorang kenalan yang tinggal di daerah Saitama misalnya harus menempuh jarak kurang lebih 1 jam untuk sampai ke masjid ini. “sekalian silaturrahmi mas, kan jarang-jarang ketemu orang Indonesia”, begitu jawab teman saya ketika saya tanya mengapa jauh-jauh rela datang ke tempat ini.

Kesulitan memang seringkali efektif untuk melahirkan militansi, sementara keberlimpahan dan kemudahan seringkali efektif untuk membunuh militansi. Di jepang ini misalnya, pada umumnya muslim sangat concern dengan status kehalalan suatu makanan. Pernah seorang teman secara intensive berkorespondensi dengan suatu perusahaan roti hanya demi memastikan bahwa roti tersebut halal untuk dimakan. Sementara saat kita berada di Indonesia, seringkali banyak di antara kita yang kurang peduli pada kehalalan makanan yang dimakannya. Tidak jarang kita menemukan seorang muslim seenaknya saja masuk ke sebuah restoran dan makan makanan disana tanpa menkonfirmasi kehahalan makanan yang dimakan, padahal di restoran tersebut jelas-jelas tidak ada label halal. Begitu juga karena masjid begitu mudah ditemui, azan mudah didengar, justru masjid tidak ramai dikunjungi. Militansi untuk menjaga semangat menjalankan kewajiban agama seakan luntur bahkan hilang. Mungkin inilah paradox keberlimpahan, menghanyutkan dan melalaikan.



Kita masih ingat ketika Indonesia masih pada masa awa-awal pendiriannya. Penjajah masih datang dan berniat kuat merampas kembali kekayaan bumi pertiwi. Itulah masa-masa sulit, masa-masa dimana pengorbanan dituntut dari setiap orang yang mengharapkan kemerdekaan sejati. Dan kesulitan ini melahirkan militansi yang luar biasa. Kita bisa mendengar bagaimana Bung Tomo dengan begitu semangatnya berkata, “tak akan kuserahkan sejengkal pun dari tanah bumi pertiwi ini ke tangan penjajah, lebih baik mati dari pada penjajah berkuasa kembali”. Militansi seperti ini bukan sekedar retorika, tapi memang benar-benar dilaksanakan secara nyata.

Namun kalau kita lihat kondisi hari ini, militansi seakan hanyalah ilusi dan mimpi. Elit-elit yang menikmati keberlimpahan hanya menjadikan semangat kebangsaan sebagai retorika murahan yang tidak pernah bisa kita lihat aplikasinya di lapangan. Kalau dulu para pejuang memilih mati untuk membela sejengkal tanah bumi pertiwi, saat ini elit-elit pemegang kuasa justru mengundang datangnya asing untuk mengeksploitasi kekayaan bumi pertiwi.

Puasa melatih kita untuk belajar bagaimana menahan diri dari berbagai kesenangan yang melenakan dan menjaga jarak dari keberlimpahan yang menenggelamkan. Kita diperintahkan untuk mengendalikan perilaku konsumsi kita meski hal itu syah dan halal. Saat konsumsi kita dibatasi, yang secara logika energy kita dibatasi, kita malah diperintahkan untuk meperbanyak ibadah. Kita disunnahkan melaksanakan tarawih dan I’tikaf yang melibatkan aktifitas fisik yang membutuhkan energy. Hal ini sedianya melahirkan militansi kita untuk senantiasa melaksanakan komitmen keislaman kita dimanapun dan dalam posisi apapun kita berada. Semoga dengan puasa ini kita senantiasa waspada, agar kesenangan dan keberlimpahan dunia tidak melenakan dan menenggelamkan kita, sehingga menjadi manusia yang abai terhadap perintah-perintah agama. Semoga. (Mukhamad Najib)

Silaturrahim Terbaru